Kamis, 19 Mei 2011

Puisi Dua Jiwa

Jejak ...
Seribu jejak membentuk sejarah ...
Mencipta kehidupan...
Berliku namun berusaha seaarah...
Kita manusia tanpa anak panah...
Mencoba berlari tanpa kenal lelah...

Kita...

Apa yang kau takutkan kawan...
Jika pipit saja mampu menghidupi anaknya...
Anak bercicit menati kedatangan sang induk...
Meski hanya menunggu remah-remah...

Tak perlu lagi kau katakan...
Asa itu masih ada...
Ya asa itu masih ada...
Dan akan tetap ada...
Selama tanah itu masih berupa tanah bumi...

Kau tahu kawan...
Langit itu masih langit yang sama...
Apalah pula matahari, awan, bintang, apalagi pelangi...

Berjuang...
Meraih mimpi...

(sang puisi, Mei 2011)

ShoutMix chat widget

7 komentar:

niQue mengatakan...

selamat berjuang :) Semoga dilapangkan jalan meraih mimpi ya bun :)

tunsa mengatakan...

pagi2 meninggalkan jejak di sini, hehe..
salam

W i e d e s i g n a r c h mengatakan...

menarik sekali... engkau nampak memang sangat mencintai bumi dan isi2nya yang mengundang romansa. ^_^

salam blogger dan perkenalan ^_^

Anonim mengatakan...

Mbak.....(peluk erat)

Yah, pelangi yang baru kulihat juga pelangi yang sama dan masih langit yang sama...langit biru :)

tak berhenti bermimpi karena kita menaruh keyakinan pada ALLAH SWT

ESSIP mengatakan...

mampir mbak Put..membaca posting sambil meninggalkan jejak di rumah ini

met siang

Nufri L Sang Nila mengatakan...

suka banget sama puisinya...penuh arti yang membangkitkan semangat...terutama yang di pipit...kena banget tuhhh... :)

Mama Kinan mengatakan...

Hmm..mbak putri ini puitis banget yah...kreatif..
*jadi malu nieh..nggak bisa buat puisi nieh saya