Minggu, 16 Februari 2014

Empati ke Pasangan

Bismillahirrohmanirrohiim
Hai apa kabar temans? Hari minggu cerah di sini. Alhamdulillah. Tidak ada hidup yang tak cerah, andai kita tahu selanya.

Empati. Hmm, kata sederhana yang memikat hati saya banget di pagi ini. Saya merasa kata ini penting banget diupayakan oleh setiap pasangan. Bukan apa-apa ya, tapi inilah yang terjadi pada kami. Harus lebih mengupayakan empati.

Terkadang kan ya, pasangan yang tentu memiliki jenis kelamin berbeda ini kalo lagi keluar ego masing-masing ya udah deh masalah kecil aja bisa heboh. Intinya lagi sama-sama capek, ga bisa mikir dengan jernih. Padahal sih masalahnya kecil aja. Seperti soal ketika dia sudah beli makanan di warung Sunda, sementara saya malahan gorengin sosis cimori yang baru saya beli karena pengen coba goreng dan keliatannya anak saya lagi bosen masakan warung Sunda. Hubby marah, kenapa saya ngasi sosis untuk makan malam. Saya juga ga mau ngalah dan bilang, "Apa salahnya sih?"

Tapi in kan masalah ya. Emang sih masalah di keluarga kami Alhamdulillah ya masalah gitu aja. Bukan masalah ekonomi walaupun kami juga ga mewah hidupnya, bukan masalah orang ketiga, apalagi masalah ketidakharmonisan dalam hubungan suami istri. Saya sih merasa masalah kami sebenarnya ringan saja. Tapi ketiadaan empati justru bisa membuat yang kecil jadi besar kan. Kaya lupa matiin kompor itu kecil kan ya, tapi api bisa tibatiba besar.

Seharusnya ya saya empati sama hubby. Dan dia juga empati ke saya. Kasian kek dengan hubby yang setiap hari harus pulang malam karena kan emang hubby ke percetakan ya malam. Hubby sejak tahun lalu udah mulai wirausaha. Tentu kerja malam itu, disaat harusnya udah tidur dimana dia bisa tuh baru pulang jam 1 pagi, bikin fisik jadi capeeeee banget nget.

Sementara saya kerja siklus normal 8-5. Ya itu. Siklus kerja kami jadi menyesuaikan sebenarnya. Anak-anak bisa selalu bersama kami. Hubby siang kerja di rumah, ngurus web online percetakan. Jadilah sejak Juni 13 kami ga punya bedinde ya ga masalah. Cuma ya itu. Siklus kerja beda butuh empati lebih juga.

Bagaimana saya, yang baru aja nyadarin karena kesibukan kerja di kantor yang makin banyak tahun ini membuat sampe rumah tuh maunya istirahat. Ngeliat rumah ya ga serapi kalo punya bedinde agak mengesalkan juga kan, tapi hubby juga pengen dimengerti juga. Yah gitu deh, bisa dibayangkan temans?

The point is kita sebagai pasangan sebisa mungkin walau badan dah letiiiih, ngertiin dong pasangan. Hubby dari kejadian makanan di atas tentu mikirnya, "pu nih, uda dibelikan makanan warsun eh malah goreng sosis." Sedangkan saya mikir,"ah gapapa sesekali goreng sosis." Walau emang ya temans kita tuh dah sepakat sosis itu ga baik, lebih baik makanan rumahan, walaupun saya ga masak karena menurut hubby lebih baik energi untuk yang lain dan diserahkan saja ke warsun saja.

Yah, empati. Sebenarnya harus bersyukur, hanya disuru empati. Hubby bukan orang yang suka main sama perempuan, walopun dulu di tempat kerjanya sebelum wiraswasta, beeh bapak-bapaknya demen ke tukang pijit. Hubby pernah diajakin tapi ga pernah mau. Alhamdulillah.

Seperti kata Dewi Motik kalo pasangan ga judi, ga selingkuh, ga mukul ya terima saja. Kalo ga cocok ya dicocokkan saja. Sampe tahun monyet juga ga bakalan cocok. Namanya juga beda kelamin. Yin yang, perempuan laki.

Nah jadi untuk jadi wobderful wife itu ada tiga nih dari saya ya...empati, mensyukuri adanya pasangan kita, cocok-cocokin aja kita dengan pasangan kita.

Gitu aja temans.
Wassalam
Pu
Postingan ini diikutsertakan dalam giveawaynya Mak Ida Nur Laila

http://puteriamirillis.blogspot.com/p/daftar-isi.html

24 komentar:

Mugniar mengatakan...

Memang sih harus sebisanya diusahakan ya mbak Pu.

Btw, ada GA yang cocok lho mbak. Ibi bisa diolah lagi, ditambah2in lagi ... sudah dengar info yang ini belum?

http://ida-nurlaila.blogspot.com/2014/02/ga-wonderful-wife.html

GA-nya mbak Ida Nurlaila ...

Ladyinthemirror mengatakan...

Bener banget, empati dan bersyukur, ya kalo dilihat tidak cocoknya pasti banyaklah tidak cocoknya tapi kalau bersyukur, Alhamdulilah punya suami, bertanggung jawab, sayang anak, ngga pernah kasar dan takut sama Allah, Alhamdulilah

Istiadzah Rohyati mengatakan...

Ah, iya banget nih masalah sepele jadi besar. Apalagi kalo akunya lg PMS. Kayaknya adaaaaa aja yg bikin ga enak hati aku. Ga jarang juga sampe nangis. Tp begitu ditanyain suami ada apa? Akunya antara malu dan kesal. Kesal karwna masa sih dia ga tau yg bikin aku nangis? Malunya karena masalah sepele ditangisin. Wkwkwkwkkwkwk. Lucu memang.

puteriamirillis mengatakan...

Sudah dengar mak niar, ini bisa ya. Nanti deh dikoprek koprek llagi

puteriamirillis mengatakan...

@Ladyinthemirror iya mbak. Kalo ga dilihat enaknya udah marahan trus kalu. Yah perempuan laki dasar nya beda.

puteriamirillis mengatakan...

@Istiadzah Rohyati iya mbak, kalo lagi pns dan lg haid ga sholat kan, wih kl ga jaga jaga yah bisa kesel kesel trus.harus menata hati nih.

Pakde Cholik mengatakan...

Manusiawi jika kadang merasa bete Jeng. Sebel, mangkel, bete, marah, tersinggung harus dikelola agar tak meledak dhor.

Saling mengerti,menghormati,menghargai,berbagi dan saling menjaga itu penting. Kadang sulit tapi ya harus dicoba. Yang diingat jangan kekurangan masing2 tetapi kelebihannya.

Salam hangat dari Surabaya

IrmaSenja mengatakan...

setuju mak, empati dan banyak maklum. Kalau nggak ? heuuhhh....gak kebayang :)))

puteriamirillis mengatakan...

Iya pakdhe. Harus banyak belajar dari pakdhe dan istri nih.

puteriamirillis mengatakan...

@IrmaSenja iya maaaakkkk...duuh bisa rempong semua ya maak.

prih mengatakan...

dua pribadi dua warna dan Jeng Pu menautkan empati untuk mengikatnya. Trim Jeng tuk sharingnya. Selamat berkarya

danirachmat.com mengatakan...

Selalu berusaha untuk saling mengerti itu emang penting banget Mba antara suami dan istri

puteriamirillis mengatakan...

@prih iya bu prih, pasangan itu dua pribadi dengan dua warna yang berbeda ya bu.

puteriamirillis mengatakan...

@danirachmat.com iya dan, bener, penting banget.

isnuansa mengatakan...

Ini beda tipis sama keadaan rumah tangga saya, Mbak. Suami juga 'hidupnya' malam, sedang saya ngantor di siang hari, hehe...

sari widiarti mengatakan...

harus berempati. Eh tapi bener kalau udah bawaannya capek, jadi malas masak :))

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

harus punya empati yang besar ya mbak

curhatibuhamil mengatakan...

intinya sama2 saling pengertian ya mbak. harus ada yang mengalahkan ego nya. ya saling empati dan pengertian gitu. yang pasti tetep rukun menjalankan ibadah dalam berumah tangga mbak :)

puteriamirillis mengatakan...

Terus trus, gmn keadaannya, kapan kapan sharing ya mba.

puteriamirillis mengatakan...

@sari widiarti pengen masak sebenarnya, kangen masak sendiri kaya waktu dibantu mbak sar.

puteriamirillis mengatakan...

@curhatibuhamil iya mbak kalo ga empati kacau semua.

puteriamirillis mengatakan...

@Lidya - Mama Cal-Vin iya mbak lidya, empati agar saling memahami.

Labbay Modjo Lelo Idjas mengatakan...

empati dan saling memahami antara suami dan istri itu penting yyg sob, biar terjalin hubungan yg harmonis. :) semoga tambah harmonis keluarganya.

Ida Nur Laila mengatakan...

"ketiadaan empati justru bisa membuat yang kecil jadi besar kan. Kaya lupa matiin kompor itu kecil kan ya, tapi api bisa tibatiba besar." menarik mak ungkapannya makasih udah ikuta ya...