Sabtu, 29 Maret 2014

Airin dan Ayra


Dimana ini?
Aku tak tahu.

Suasana magis mulai terasa. Tapak di besi berkarat yang sepertinya sudah lama tak dilewati makhluk. Tanaman liar menyambutku dengan enggan, seolah berkata, "Kembali saja kau ke duniamu." Apakah aku harus kembali saja. Bulu kuduk berdiri di atas kulit tanganku. Keringat dingin bercucuran walau suasana sangat dingin di sini. Keringat ketakutan yang entah bagaimana caranya bisa ada.

Aku terus berjalan. Dimanakah ujung dari setapak yang menuju ke atas itu. Tak tampak ujungnya oleh penglihatanku.  Tiba-tiba muncul di sebelahku sesosok yang mirip sekali dengan diriku. Ia tersenyum melihatku. 

"Hai, kamu siapa?" tanyaku.

"Aku adalah kembaranmu di dunia lain, hari ini kita bertemu untuk berganti tugas, aku ke dunia, sedangkan kau di sini." katanya.

Jantungku berdetak lebih cepat mengetahui itu. Ini pasti mimpi, ini pasti mimpi. Aku membalikkan badanku berusaha keras menuju pintu ke duniaku. Aku berlari dan berlari, tapi kemana perginya pintu itu. Hilang. Aku hanya berlarian di tapak besi berkarat yang menghubungkan dua gunung itu. Napasku tersengal-sengal, aku butuh minum, tapi entah mengapa sedetik kemudian aku tak merasa haus.

Tiba-tiba sesosok yang mirip diriku itu sudah berdiri di depanku. "Kamu jangan khawatir, di sini menyenangkan. Di sini kamu tak perlu sekolah dan bekerja. Di sini semua lengkap tersedia."
 

 
"Tapi-tapi, aku tak mau berada di sini. Tempat ini asing bagiku. Cepat kembalikan aku ke dunia. Biar kau saja yang berada di sini." kataku.

"Tidak bisa Airin. Oya, perkenalkan namaku Ayra. Nama kita akan segera berganti, aku akan menjadi Airin dan kamu menjadi Ayra.

"Aku tidak mau, aku tidak mau." teriakku sekencang-kencangnya.

Sosok Ayra menghilang. Dan menjelma pada diriku. Seketika aku merasa nyaman di tempat ini dan berlari menyusuri setapak hingga ke atas menuju ujung putih berkabut.
 
***

Tangan itu bergerak.  Tangan Airin bergerak. 

"Anakku, kau sudah sadar nak!" Ibu Ani kaget bukan main. Ia segera berlari ke luar kamar mencari suster. 

"Suster tangan Airin bergerak!" teriak ibu Ani. Ia bahagia sekali.

Sudah lima minggu Airin koma setelah terjadi kecelakaan sepeda motor. Airin yang sedikit bandel dan tak mau diatur. Airin yang sering membuat ibu Ani geleng-geleng kepala melihat perilakunya.

Suster memeriksa denyut Airin dan ternyata Airin pun terbangun. 

"Ibu-ibu..." Airin berkata lemah.

"Ya, sayang..." mata ibu berbinar melihat Airin sudah sadar.

Airin tersenyum dan berkata, "Aku kangen ibu."

Ibu mencium Airin dengan sayang. Terharu melihat perubahan sikap putrinya yang biasanya berbicara sungguh kasar. Entah apa yang terjadi pada komanya lima minggu ini.

***

Aku pun sampai di ujung putih yang berkabut itu. Ternyata di sini negeri kayangan. Aku yang menjelma menjadi Ayra segera menuju perkampungan Kayangan. Disana tersedia meja panjang dengan beragam minuman dan makanan. Aku disambut peri-peri yang sinarnya indah dan makan minum dengan manisnya. Di sudut lain ada tempat pemandian. Kulihat kulitku memancarkan sinar indah seperti peri-peri. Aku menjelma menjadi Ayra, sang peri. Aku harus beretiket layaknya peri. Biarlah aku berusaha menjadi peri, walau selama menjadi Airin aku adalah anak yang sedikit bandel.
 
Ah, suasana di sini sungguh indah. Ya, aku butuh istirahat. Benar kata sosok mirip diriku tadi, sementara aku harus menjadi Ayra.

Aku ingin di sini saja. 
Selamanya.

468 kata
 
* Diambil dari kisah nyata anak seorang kenalan yang berubah jadi lebih baik perilakunya setelah mengalami koma. Alam fantasyku berpikir ya seperti di cerita, sikap buruk airin dimasuki dengan ayra. Airin jadi Ayra, Ayra jadi Airin. Airin berubah jadi baik karena ruh yang baik dari kayangan menggantikan ruh buruknya. Ruh buruk semacam direparasi di kayangan.
 
hihihi...maaf ya geje.
 
Tulisan ini untuk MFF :) 

http://puteriamirillis.blogspot.com/p/daftar-isi.html

14 komentar:

aul cooper mengatakan...

Kok ayra mau berganti alam dengan airin, ya? Padahalkan alamnya ayra indah bnget... dan tujuan ayra pindah ke dunianya airin buat apa, ya?? Banyak misteri yang masih tersisa... ;)) mungkin part 2 kayak punyaku hehehe

Beby Rischka mengatakan...

Kasian Airin.. Ngga ada kesempatan kedua buat minta maaf secara langsung pada ibunya, malah Ayra yang merasakan hangatnya pelukan ibu Airin..

Meskipun dunia Ayra itu indah, apa artinya jika kita tak bersama orang tersayang? Justru kalo aku malah ngerasa kesepian, walaupun di awal mungkin seneng-seneng aja..

Ih aku jadi kangen Mama :') *lari-lari nyari emak di dapur*

puteriamirillis mengatakan...

Itu kan fantasy ku aja. Orang koma kan ada ya yg begitu sadar jd berubah dr tadinya tidak baik perilaku nya jd baik. Anak temenku ada yg begitu. Jadi fantasyku dlm komanya dia berganti peran gitu ky di cerita,hehe.

puteriamirillis mengatakan...

@Beby Rischka mungkin itu semacam hukuman gitu bagi airin ya...tp mereka itu diri yg satu kok, mereka hny gantian,di dunia tetep jadi airin. Setelah koma kan bnyk ya orang berubah jadi baik. Anak temenku begitu soalnya beib.

Beby Rischka mengatakan...

@puteriamirillis

Wah.. Syukur lah kalo berubah ya, Mbak Pu.. :) Aku juga pernah kok ngalamin satu kejadian yang akhirnya ngebuka mata ku kalo Mama itu segalanya. Huhuhu.. Nyesel kalo inget-inget kejadian yang dulu

Yah walaupun fantasi kan pelajarannya tetep banyak, Mbak :D

puteriamirillis mengatakan...

Iya sama beib, walopun ga sampe koma, naudzubillah. Aku juga pernah ngalamin aku ya agak bandel gitu. Namanya juga anak sbg, mulaai punya keinginan sendiri.nyesel kl diinget.

Lianny Hendrawati mengatakan...

Smoga Airin memiliki sifat baik selamanya. Ibunya pasti senang melihatnya sadar dan berubah ya

nunu mengatakan...

Kayak nonton ftv dan film2 korea hehhe

ketty husnia mengatakan...

mba Pu cepat dapat ide nih..keren mba

puteriamirillis mengatakan...

@Lianny Hendrawati amiin mbak..:)

puteriamirillis mengatakan...

@nunu eh...hihihi///

puteriamirillis mengatakan...

@nunu eh...hihihi///

puteriamirillis mengatakan...

@ketty husnia kebetulan aja mbak :)

AttarArya mengatakan...

setelah dua bagian pertama yang ditutup dengan sadarnya Airin dari koma, rasanya bagian ketiga sudah tak lagi diperlukan.

malah jadi antiklimaks, walaupun dalam cerita ini pengarang terlalu 'baik hati' memberi rincian hingga tak ada kejutan yang disisakan buat pembaca.

Salam. :)