Senin, 31 Maret 2014

Genggaman Tanganmu 7

Bersambung dari genggaman-tanganmu-6 

Gerybaldi

"Papua memang surga bagi emas, setiap tanah di sini mengandung emas." Pak Supir mobil yang kusewa berbicara sambil tangannya terus menyetir.

"Karena itu banyak sekali manusia dari penjuru dunia lain terutama perusahaan asing terkenal itu yang ingin memborbardir habis emas di Timika ya Pak." Kataku.

Hening kemudian. Aku menikmati semilir angin dari luar jendela mobil yang kubiarkan saja terbuka. Kiri kanan jalan adalah pepohonan. Perjalanan dari pantai Harlem ke Jayapura memakan waktu sekitar 2 jam. Kru liputan masih asyik mendengkur di Hotel Aston, kelelahan setelah round-round syuting di Timika selama 3 hari.

Setelah menempuh hampir separoh perjalanan menuju pusat kota handphone-ku berbunyi. Hmm, Dinda.

"Ya, ampuun, kemana saja kamu Gery. Aku menelepon berkali-kali, sudah ratusan kali sepertinya, tapi telepon itu hanya menyambutku dengan nada tak berbalas. Huuh, aku khawatir tau." Dinda mengomel panjang lebar.

"Hei, maafkan aku sayang. Aku tadi ke pantai Harlem. Susah sinyal. Jadi teleponmu tidak masuk, ini baru saja sampai separoh jalan menuju Jayapura, sinyal kembali bagus. Ada apa sayang?"

"Papa bertanya kapan kamu ke Manado, katanya ada teman kuliahmu yang sedang ikut proyek perbaikan jalan di Manado."

"Oya, siapa ya? Oke, aku lusa ke Manado, besok ke Jakarta. Ada rapat dengan kru di kantor jadi aku menginap di kantor sebelum terbang ke Manado. Kamu sudah di Manado, Din? Pintu dan jendela rumah Cipinang aman terkunci kan? Aku khawatir akan maling. Apalagi era susah seperti sekarang."

"Ya, tentu saja. Aku sampai berkali-kali melihat kembali untuk meyakinkan semuanya. Bi Moh kusuru pulang kampung dulu selama kita di Manado."

"Oke sayang. Kita sekalian berbulan madu di Manado."

"Hahaha, itu bukan bulan madu, tapi pulang kampung."

"Hahaha, oke sayang. Udah dulu ya sayang. Muaah."

"Mmmuaaah."

Nada putus terdengar dari handphoneku. Hmm, siapa ya temanku itu. Proyek perbaikan jalan di Manado. Sarjana Teknik Sipil. Apakah dia itu Ricky??? Hei sudah lama aku tak berjumpa dengan Ricky. Tapi aku tak punya no handphonenya. Nomor handphone ku juga sempat berganti. Sosial media. Hmm. Mengapa tak terpikirkan. Ah, nanti saja di hotel aku lihat.

Bersambung
http://puteriamirillis.blogspot.com/p/daftar-isi.html

4 komentar:

Beby Rischka mengatakan...

Papua surga emas.. Kayaknya di Papua ini banyak kali harta karunnya ya, Mbak Pu. Seinget ku waktu SMP dulu di atlas, Papua ada banyak mengandung berlian juga.. Andai orang pribumi yang ngolah dan nghasilinnya, pasti banyak yang kebantu ekonominya..

Hihihi.. Pake mmmuaaah-mmmuuuaaah deh ah :p

puteriamirillis mengatakan...

Iya bbeib, itu beneran kata driver waktu aku ke jayapura. Hehe mmuah

Desi mengatakan...

penasaraaaan sama kelanjutannyaaa... ^^

puteriamirillis mengatakan...

@Desi ditunggu aja deeh...:)