Minggu, 22 Januari 2012

Satu Karakter Umar

Maghrib itu setelah menunaikan sholat Maghrib aku bersama anak-anak sedang berkumpul di kamar. Kebetulan saat itu suami sedang mandi. Terasa panas kamar kami saat itu, kucari sebabnya ternyata karena AC belum dinyalakan. Dengan segera aku bangun dari tempat tidur, kuambil remote AC dan kuarahkan ke mesin AC yang dipasakkan tinggi di dinding. Setelah aku selesai menyalakan AC Azkiya pun mengatakan padaku, "Kiya mau pinjem dong Ummi". Maksudnya Kiya mau meminjam remote AC. Aku dan suami sudah sepakat bahwa remote, baik remote AC maupun remote TV, adalah benda di rumah yang tidak bisa dimainkan oleh anak-anak. Sebab remote adalah benda yang sensitif. Jika rusak sedikit saja, entah karena dibanting atau dipencet-pencet tombolnya, membutuhkan waktu untuk memperbaikinya kembali. Padahal remote adalah benda penting, apalagi remote AC, jika tak ada remote maka AC tak bisa dinyalakan.

Dengan segala pertimbangan itu aku memutuskan segera untuk melarang Azkiya memainkan remote AC. Anak umur 2,5 tahun itu akhirnya menangis keras. Egonya mulai tumbuh dan semakin menonjol akhir-akhir ini. Ya, kupahami, anak seumuran dia memang sedang tumbuh ego. Aku berpikir dan pernah membaca di suatu majalah bahwa anak-anak 2-3 tahun sedang di puncak-puncaknya ego. Sebagai orangtua kita harus bisa membaca situasi ini. Jangan menuruti semua kemauan anak. Ego itu akan menurun atau tidak tergantung dari kita orangtuanya. Memanjakan dia atau tidak dalam arti menuruti semua keinginannya atau memendam sebagaian keinginannya dengan tujuan agar dia memahami bahwa tak semua keinginan itu bisa dipenuhi. Aku juga pernah membaca artikel di sebuah website bahwa anak perlu memahami emosinya sendiri. Dengan menuruti semua keinginannya sebenarnya orang tua sedang membuat anak tak kenal dengan emosinya sehingga tak bisa mengontrolnya. Sesekali tak menuruti keinginan anak membuat anak memahami emosinya dan belajar untuk mengendalikannya.

Tentu saja teori mendidik anak yang kubaca tersebut tak seindah bayangan ketika kita sebagai orangtua harus menjalaninya. Saat itu Azkiya menangis kuat-kuat, menjerit, teriak hingga mukanya memerah seperti udang rebus. Sampai-sampai suami yang baru selesai mandi kaget, mbak Moh asisten kami kaget dan melongok ke dalam kamar. Mereka pun membujuk Azkiya. Namun ternyata bujukan itu tak mampu menahan keinginan awal Azkiya untuk memainkan remote AC. Suamiku mengatakan padaku, "Kita tak boleh menyerah".

Aku mencoba membujuknya dengan dibacakan buku cerita, digendong, dipeluk, namun ternyata nihil. Azkiya tetap mau remote AC saja. Akhirnya Abi ambil sikap. Kata Abi, "Azkiya kalau masih nangis keluar kamar saja ya, di sini bukan tempat menangis". Namun hal itu tak membuat tangisan Azkiya mereda. Akhirnya dengan tega aku pun menggendong Azkiya hendak membawanya keluar kamar untuk kemudian kutinggalkan. Namun apa daya, saat itu kejadian luar biasa terjadi. Abang Umar, yang biasanya suka mengganggu Azkiya, merebut mainan Azkiya, membuat Azkiya menangis ternyata pada maghrib itu menunjukkan sikap terbaiknya sebagai seorang abang.

Umar menahan pintu kamar, sehingga aku tak bisa membawa Azkiya keluar kamar. Azkiya masih saja menangis saat itu. Umar mengatakan, "Azkiya tidak boleh dibawa keluar". Aku dan suami tertegun saat itu. Umar bisa bersikap melindungi Azkiya seperti itu, subhanallah! Kemudian suami pun menyuruh aku ke kamar sebelah yang hanya dipisah pintu dengan kamar kami. Setelah aku masuk kamar sebelah, kemudian suami mulai masuk pintu kamar sebelah sambil mengajak Umar. "Ayo Umar, Azkiya jika masih menangis tidak diajak". Saat itu memang Azkiya masih menangis. Tapi apa yang terjadi, lagi-lagi Umar menunjukkan sikap terbaik sebagai seorang abang. Umar justru menarik tangan Azkiya. Umar ingin adiknya juga ikut ke kamar sebelah. Dia tidak mau meninggalkan Azkiya sendirian. Subhanallah! Aku dan suami berkaca-kaca melihat itu semua.

Akhirnya aku dan suami kembali ke kamar kami. Azkiya sudah lelah dan tangisannya sudah berkurang. Suamiku memeluk Umar dan menghargai sikap Umar tadi. "Abi suka dengan sikap Umar tadi, Umar melindungi adik Azkiya", kata Abi. Aku pun melakukan hal yang sama.

Suami mengatakan, "Itu namanya karakter Pu. Arif ga menyangka Umar bisa bersikap seperti itu. Itu sudah di luar pikiran kita. Karakter positif yang mulai tumbuh dari Umar. Karakter pembelaan". Suami sampai berkaca-kaca mengatakan hal itu. Aku pun demikian. Hingga akhirnya kedua anak itu pun tertidur.

Kisah nyata di rumah kami beberapa hari yang lalu.


click this !

19 komentar:

Lyliana Thia mengatakan...

Ah terharu aku juga Pu... inget kalo Vania berantem rebutan mainan sama sepupunya tapi setelahnya saling kangen dan cari2an.. hehehe..

salam buat Kak Umar dan adik Azkiya ya.. ^_^

Vania Anandita mengatakan...

Iyaaah Tante Pu.. kemarin Vania minta IPad sama Bunda gara2 Aira punya IPad.. Tapi Bunda nggak kasih... huaaaaa... teganya... teganyaaaa...

Gaphe mengatakan...

waah.. ternyata, Umar memiliki karakter pembela adiknya.. tentu saja itu karena kebiasaan dan apa yang dia lihat selama ini yang diajarkan oleh orang tuanya..

lingkungan lah yang membentuk anak

keep it up Umar!

HEЯRY mengatakan...

keluarga yang harmonis nih :)
saya banyak belajar tentang keluarga, trims ya atas tulisan yang bagus ini..

puteriamirillis mengatakan...

@Lyliana Thiasalam juga untuk vania ya mbak..

puteriamirillis mengatakan...

@Vania Ananditananti kalo vania sudah semakin besar dan pintar bunda juga akan memberi insya allah ya sayang...

puteriamirillis mengatakan...

@Gaphemakasih ya om gaphe...

puteriamirillis mengatakan...

@HEЯRYsama2 ya om herry...

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

umar perhatian dan sayang sama adiknya ya

vizon mengatakan...

Anak-anak kalau dilarang memang semakin gencar meminta. Itu bukan karena tidak mau menuruti kita, tapi lebih kepada keingintahuannya akan benda tersebut. Barangkali, ada baiknya diberikan sebentar, sambil kita ceritakan dan jelaskan apa dan bagaimana benda tersebut. Setelah rasa ingintahunya itu reda, maka dia akan segera melupakan benda tersebut dan beralih ke benda lainnya..

Tapi, poinnya di sini adalah Umar..
Salut saya atas sikapnya. Dan itu tentu tidak tumbuh dengan sendirinya. Pembelajaran yang ia peroleh dari apa yang ia lihat, dengar dan rasakan dari keduaorangtuanyalah yang membentuknya seperti itu.. Salut saya untuk itu, Puteri.. :)

Ummi Nabil mengatakan...

salut untuk abang umar

puteriamirillis mengatakan...

@Lidya - Mama Pascalalhamdullillah mbak...

puteriamirillis mengatakan...

@vizonsudah pernah dilakukan uda...dan sudah pernah diberi remote itu...tapi kan kita akhirnya memang setelahnya tidak membolehkan mereka mainan remote...^^alhamdullillah uda...

puteriamirillis mengatakan...

@Ummi Nabilalhamdullillah ummi...

ketty husnia mengatakan...

wah kalo saya, yang sedang egois banget itu justru kakak sulung..si adik lebih ngalah..pertanyaannya, emang, sengaja buat aturan gitu ya mbak?? kalo ada yg marah trus sampe nangis..di pindah lokasi gitu sampai anteng ya??

al kahfi mengatakan...

wah2 salut dgn umar mbak sdh menunjukkan melindungi adiknya ,,ya apapun itu karena didikan org tuanya juga kan,,

Rakyan Widhowati Tanjung mengatakan...

subhanallah ya mbak,luar biasa :)

Rakyan Widhowati Tanjung mengatakan...

subhanallah ya mbak,luar biasa :)

Asep Saepurohman mengatakan...

Wah karakternya umar udah mulai kelihatan :D