Izin share, semoga bermanfaat Renungan
Bismillahirrohmaanirrohiim..
Berbeda jauh dengan suasana kereta AC pada umumnya, kereta ekonomi non-AC Jabodetabek yang lumayan panas hawa dalamnya. Penumpang saling dempet berdempet. Kebanyakan berdiri. Saling berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak terbawa godaan gerbong yang kadang berguncang.
~
Seorang eksekutif muda, berdiri di antara mereka. Sesak-sesakan dengan penumpang lain. Pakaiannya adalah jas elegan. Keringat terlihat beberapa tetes. Cukup bersih. Setidaknya, beda jelas dengan lainnya.
~
Lalu, ia membuka HP Tablet Androidnya. Besar. Lebih besar tentu dibanding HP umumnya. Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu orang-orang kebanjiran.
~
Semuanya menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?
~
Di pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin, 'Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Di belakang pemuda lusuh itu, seorang pedagang membatin, 'Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.'
Seorang nenek-nenek membatin, 'Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.'
Seorang emak-emak membatin, 'Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.'
Seorang gadis ABG membatin, 'Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?'
Seorang pencopet mengintai, 'Ini penghinaan buat gue. Seenggaknya gue ga bakal nilep barang terang-terangan. Nape ni orang ga naek kereta AC aje si? Pamer segala!'
Seorang pengusaha membatin, 'Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. Hhh...andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha; barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?'
Seorang ustadz kampung melirik, 'Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.'
Seorang pelajar SMA membatin, 'Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Ill feel gue.'
Seorang tentara membatin, 'Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.'
Seorang penderita busung lapar membatin, 'Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.'
Seorang mahasiswa di kampus ternama membatin, 'Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.'
~
Si eksekutif muda tersenyum. Ia menyimpan Tabletnya di tas. Pikirannya hanya terfokus pada dana. Ia tersenyum membatin, 'Alhamdulillah, akhirnya para donatur bersedia membantu semuanya. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali.'
~
Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta Ekonomi di dalamnya.
Ia bergumam, 'Tadi sempat tukaran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.'
-Persepsi-
Maha benar firman Allah swt yg mengatakan bahwa sebagian besar prasangka itu dosa,,,
Dari grup sebelah 😊
pendapat saya
Tp...kalo menurut sy ya,akn lebih baik jika bapak itu tdk membuka tabletny di kreta ekonomi. Setidakny ada 3 hal:
1.mengundang persepsi tdk baik dr orang lain,hendaklah kt empati dan tdk memandang orang lain yg harus mengerti kita
2. Dis tdk darurat u buka tablet,kl darurat hendaklah dia pake kereta ac ,tukar aja karcisny di loket,ato buka tablet di peron,jgn di kreta ekonomi
3. Bergaul sesuai dg keadaan sekeliling,jk diantara orang biasa bersikaplah seperti orang biasa. Sikap sederhana akn lbh mengundang simpati.
Demikian semoga bermanfaat,wallaahualam.
wassalam . Pu
http://puteriamirillis.blogspot.com/p/daftar-isi.html
Tampilkan postingan dengan label Tulisan teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan teman. Tampilkan semua postingan
Selasa, 31 Desember 2013
Rabu, 20 November 2013
Kiat Jitu Jadi Pelajar Teladan di Eropa ala Daus "Novel Negeri Van Oranje" (2)
Assalaamualaikum wr.wb
Setelah post kemarin Kiat Jitu Jadi Pelajar Teladan di Eropa ala Daus "Novel Negeri Van Oranje" (1) nih saya post lanjutannya yaaaa....
Sabtu, 16 November 2013
Kiat Jitu Jadi Pelajar Teladan di Eropa ala Daus "Novel Negeri Van Oranje" (1)
Assalaamu'alaikum wr.wb
Berhubung saya lagi iseng saya bagi aja ya kiat jadi pelajar teladan di eropa ala daus di novel negeri van oranje. Novel ini mengisahkan haru biru nya petualangan kocak lima mahasiswa Indonesia di Belanda. Saya cuma nulis ulang doang. Kalo ada yang butuh tips ini monggo...:)
Berhubung saya lagi iseng saya bagi aja ya kiat jadi pelajar teladan di eropa ala daus di novel negeri van oranje. Novel ini mengisahkan haru biru nya petualangan kocak lima mahasiswa Indonesia di Belanda. Saya cuma nulis ulang doang. Kalo ada yang butuh tips ini monggo...:)
Selasa, 30 Juli 2013
Kesederhanaan
Hmm … banyak orang yang karena sibuk mengejar harta dan kedudukan, lupa menginginkan kesederhanaan yang sesungguhnya adalah kekayaan yang sangat indah.
Di atas kesederhanaan lah, semua keindahan berdiri.
Tanpa kesederhanaan yang jujur, kemegahan apa pun hanyalah kualitas sementara, yang akan runtuh dalam penyesalan dan malu.
Mario Teguh - Loving you all as always
Baca juga daftar-isi
Senin, 26 Maret 2012
MELINDUNGI ANAK VS MENCEGAH ZINA (Catatan Terhadap Putusan MK dalam Uji Materiil Pasal 43 ayat 1 UU Perkawinan)
Oleh: Heru Susetyo
Dosen Hukum Perlindungan Anak/
Peneliti Lembaga Kajian Islam & Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Barangkali para hakim Mahkamah Konstitusi (MK) RI tengah mengalami
masa-masa sulit beberapa pekan terakhir ini. Pangkalnya adalah putusan
‘kontroversial’ dari MK per 17 Februari 2012 terhadap uji materil pasal
43 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang diajukan oleh Machica Mochtar,
mantan istri mantan Mensesneg Moerdiono (almarhum). Disebut
‘kontroversial’ karena MK merubah redaksi pasal 43 ayat (1) UU
Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang tergolong ‘sensitif’ dan telah eksis
selama 38 tahun terakhir.
Selasa, 07 Februari 2012
Good Words
"seseorang yang menerimamu, bukan karena kelebihanmu atau keistimewaanmu, melainkan justru karena kekuranganmu itu. |
Sabtu, 04 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Status Mario Teguh
Sahabat saya yang baik hatinya,
Orang yang bertubuh lengkap, tidak boleh mengeluhkan hidup ini sulit, di hadapan saudaranya yang penyandang cacat tapi sukses.
Sesungguhnya, nikmat Tuhan yang mana lagikah yang dia dustakan?
Jika hidup ini mudah, akankah ada bedanya bagi hati yang pengeluh?
Semoga Tuhan menolong orang yang setelah mengerti, masih tetap mengeluh.
Aamiin
Mario Teguh - Loving you all as always
Orang yang bertubuh lengkap, tidak boleh mengeluhkan hidup ini sulit, di hadapan saudaranya yang penyandang cacat tapi sukses.
Sesungguhnya, nikmat Tuhan yang mana lagikah yang dia dustakan?
Jika hidup ini mudah, akankah ada bedanya bagi hati yang pengeluh?
Semoga Tuhan menolong orang yang setelah mengerti, masih tetap mengeluh.
Aamiin
Mario Teguh - Loving you all as always
Selasa, 10 Januari 2012
Manfaat Telur
Kebetulan saya dapet email dari milis Dokter tentang telur. Jadilah saya yang sedang berusaha diet/ mengatur pola makan merasa penting dengan artikel ini dan posting aja ah...
Senin, 20 Juni 2011
Tulisan Kenangan: Sahabatku Suherlina
Pada postingan sebelumnya di sini saya telah mengungkapkan perasaan hati mengharu biru dengan berpulangnya sahabatku, Suherlina. Betapa kemarin saat saya ke makam nya sungguh perasaan hati ingin membuncah seketika, bagaimana tidak seseorang yang pernah mengisi hari-hari bersama telah berpulang terlebih dahulu.
Di Writers Academy, Menjadi Penulis Tak Lagi Sekedar Mimpi
Tulisan Almarhumah Suherlina Yusuf pada lomba menulis yang diadakan writing academy dan dia menjadi juaranya beasiswa pelatihan kepenulisan senilai 3 juta, namun belum sempat dia belajar sudah berpulang ke Rahmatullah.
siapa dia???pernah kuposting di sini
“Menulis itu penting. Karena Indonesia termasuk negara yang penduduknya malas membaca. Dengan menulis, otomatis akan meningkatkan minat membaca. Menulislah dari hatimu.” (Ligwina Hananto)
Itulah salah satu pesan yang terekam kuat dalam memoriku dari Pesta Penulis 2011 (PP 2011). Pesta Penulis? Mungkin, teman-teman baru mendengarnya. Aku pun baru mengetahui dari facebook seorang teman. Saat kubaca informasinya, aku yang memiliki minat di dunia penulisan, langsung tertarik dan mendaftar sebagai peserta. Acara ini terselenggara atas kerja sama Writers Academy dan PenulisLepas.com serta disponsori Telkom Speedy.
Pada Sabtu 26 Februari 2011, aku hampir batal datang ke acara tersebut, karena kesehatanku yang kurang baik. Namun kufikir sangat sayang melewatkan kesempatan bagus dan langka ini. Akhirnya, kukuatkan tekad untuk berangkat. Aku yakin, Allah memudahkan jalan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Sebuah talk show ringan tapi berbobot, membuka PP 2011 dengan menghadirkan penulis-penulis sukses, yaitu Ligwina Hananto (penulis buku best seller “Untuk Indonesia Yang Kuat : 100 Langkah Untuk Tidak Miskin ), Ning Harmanto (penulis 18 buku best seller tentang kesehatan), dan Adhitya Mulya (penulis novel best seller, diantaranya “Jomblo” dan “Gege Mengejar Cinta”), Ali Muakhir (penulis buku anak yang meraih rekor MURI atas karyanya yang paling banyak se-Indonesia).
Oya, nama kedua ibu pembicara tersebut belum lama ini menghiasi benakku, karena aku sedang mencari buku-buku mereka. Tak kusangka, bisa bertemu langsung dengan mereka. Aku jadi ingat “Hukum Tarik Menarik” dalam buku “Being Happy” karangan Andrew Matthews. Intinya, pikiran kita itu seperti medan magnet, yang akan menarik apa saja yang kita fikirkan. Berpikirlah yang baik, maka itulah yang akan menghampiri kita.
Aku senang bisa mendengarkan pengalaman pembicara dan mendapatkan pesan-pesan penting seputar penulisan.
Jangan takut menulis, karena menulis itu mengasyikkan.
Menulislah dengan suatu pesan, karena ia akan memperlancar kita dalam membuat tulisan.
Dengan menulis, kita bisa memberi sesuatu bagi banyak orang. Bukankah sebuah kebahagiaan, bila tulisan kita bermanfaat bagi orang lain?
Di acara ini, ada juga sesi promosi buku, tips dari penerbit agar tulisan kita layak diterbitkan, launching buku Antologi Puisi karya teman-teman dari PenulisLepas.com, dan door prize.
Acara ditutup dengan penjelasan lomba menulis yang berhadiah beasiswa senilai 3juta untuk belajar di Writers Academy (WA). Wow, sangat menggiurkan! Semua peserta pasti tertarik mendapatkannya. Karena dengan menjadi siswa WA, kita bisa menjadi penulis hebat. Seperti yang dialami oleh salah satu pembicara, yang meskipun sudah menghasilkan banyak buku, namun ternyata beliau pernah belajar di WA.
“Meski sudah menulis banyak buku, saya ingin terus memperbaiki diri. Selama ini saya juga belajar menulis dari jagoan menulis kita 'Pak guru Jonru'. Saya belajar online saja dan mendapat banyak manfaat....sehingga tulisan saya, kata suami saya lebih berbobot.” (Ning Harmanto)
***
Tak kenal maka tak sayang… Kini, saatnya aku mengajak teman-teman untuk mengenal WA yang membidani PP 2011. Pada 2007 seorang penulis produktif, Jonru Ginting, mendirikan Sekolah Menulis Online (SMO), sebuah lembaga pelatihan penulisan online pertama di Indonesia. Seiring waktu, SMO telah meluluskan alumni hingga 400 orang lebih. Pada 3 Januari 2011, untuk lebih mengembangkan sayapnya di dunia penulisan, SMO bergabung dengan manajemen Oxford Course Indonesia (OCI), dan namanya menjadi Writers Academy.
Writers Academy memiliki berbagai keunggulan…
1. Profesional dan berbadan hukum
Ini adalah hal yang harus diperhatikan, jika ingin mengikuti suatu pelatihan. WA dikelola secara professional oleh OCI, yang selama 40 tahun berpengalaman mengelola lembaga kursus. Terbukti dengan diraihnya Anugerah Widya Karya Bhakti Kursus 2009, dari Departemen Pendidikan Nasional, sebagai penyelenggara dan lembaga kursus terbaik se-Indonesia.
2. Sertifikatnya diakui oleh Depdiknas
Karena sudah terpercaya, Depdiknas mengakui sertifikat yang dikeluarkan WA. Tentunya ini sangat bermanfaat bagi kita.
3. Pengajar yang hebat dan berpengalaman
Tak diragukan lagi, pengajar WA adalah penulis-penulis yang produktif dan ahli sesuai dengan genre-nya masing-masing.
4. Belajar di WA = belajar menulis + menerbitkan buku
Bagi kita penulis pemula, pasti sangat sulit untuk menembus penerbit. Nah, karena WA telah memiliki jalinan kerja sama yang baik dengan sejumlah penerbit dan media masa, selain belajar menulis, kita akan dibimbing untuk menerbitkan karya kita. Sambil menyelam dapat mutiara…
5. Variasi pilihan belajarnya : online dan offline
Mau kelas online, karena sibuk? Atau mau kelas offline, karena ingin bertemu dengan para pengajar? Keduanya, sama-sama ok kualitasnya!
6. Tempat belajar yang tersebar di berbagai tempat
Lokasinya strategis dan mudah dijangkau.
7. Komunitas penulis yang solid
WA menyediakan sebuah komunitas sebagai wadah komunikasi antara alumni dengan para pengajar. Dengan saling berbagi, akan semakin mengasah kemampuan menjadi penulis sukses.
Dengan 7 keunggulan tersebut, tak ada alasan untuk tidak belajar di WA bagi yang ingin menjadi penulis hebat. Mau kenal lebih dekat dengan WA? Yuk kunjungi : http://www.writersacademyindonesia.com/
Begitulah teman-teman, pengalaman manis yang kuperoleh dari Pesta Penulis. Semoga bermanfaat…
Yuk menulis, untuk Indonesia yang lebih maju !
***
“Putarlah film harapanmu, niscaya akan terwujud.” (Elly Risman,Psi)
Maka, kutulis catatan ini bersama film tentang impianku belajar di WA.
Sahabat, dukung aku ya agar bisa memenangkan beasiswanya. Caranya mudah kok, tinggal klik “LIKE” di bagian bawah note ini. Thanks…
*ENGLISH VERSION *
IN THE WRITERS ACADEMY, YOU CAN BE THE BEST WRITERS
"Writing is important. By writing, it will automatically increase your reading interests. Write from your heart." (Ligwina Hananto)
On Saturday, 26 February 2011, I joined an event called “Pesta Penulis 2011” (Writing Party 2011). It held by Writers Academy (WA) and PenulisLepas.com, sponsored by Telkom Speedy. There are a lot of events, there. A talk show presented four writers has opened the event. All of the speakers have written a lot of books and they are best seller books. There was also one writer who has an award from MURI (Museum Record Indonesia / Indonesian Record Museum). He earned it, because he was the person who has created the most books in Indonesia. There are also books promotion, tips from publisher for amateur writers, and book launching.
I taught, I was very lucky to attend the event. I got a lot of tips in writing, motivation and inspiring words from the speech.
Don’t be afraid to write, because writing is fun.
Write by a message, so we can write easily.
By writing, we can give something to other people. It is happiness, when our article is useful to them, isn’t it?
Finally the committee explained a writing competition for the participants. Do you know, what the reward is? It is a scholarship worth 3 million rupiahs to learn in WA!!! Wow, it is fantastic! The participants must be interested to get it. Because by learning in WA, we can reach our dream to be the writer.
You want to know about WA? OK, I will tell you friends. :)
In 2007, a productive writer, Jonru Ginting, has buit Sekolah Menulis Online (SMO), a first online writing course in Indonesia. Until now, SMO has graduated more than 400 graduates. In 3 January 2011, SMO joined with management of Oxford Course Indonesia (OCI), and changed its name to Writers Academy.
Writes Academy has 7 excellences:
1. It has corporation and held professionally.
2. The certificate was granted by Depdiknas (Indonesian Education Ministry)
3. The trainers are the best and productive writers.
4. It is not only be taught to write, but also led to publish it.
5. There are online and offline class
6. There are training places in many areas.
7. There are a solid writers community
With the 7 excellences, there are no reasons for not learning in WA, for everyone who wants to be a writer.
For more information, just click: http://www.writersacademyindonesia.com/
So.., let’s write guys !!!
***
Pisahkan : "Masalahku atau Masalahmu?” (Sebuah pelajaran lama yang teringat kembali…)
Tulisan Almarhumah Suherlina Yusuf:siapa dia???pernah kuposting di sini
Dalam hidup, kita tak pernah lepas dari masalah. Bukan hanya orang dewasa, namun juga anak-anak. Bagi orang tua yang memiliki anak, seringkali tak tega dengan masalah yang dihadapi buah hatinya, sehingga cenderung selalu ingin membantu mereka. Benarkah sebagai orang tua, kita harus selalu memambantu setiap masalah yang dihadapi anak-anak kita.
Kisah ini menceritakan pengalamanku, bagaimana repotnya aku membantu masalah yang dihadapi adik sepupuku. Dan setelah membantunya, aku baru ingat pelajaran & nasihat dari guru parentingku, Bunda Elly Risman,Psi tentang perlunya memisahkan masalah : masalah orang tua atau masalah anak ?
Selamat membaca...
***
“Kriiiing…kriiing…kriiing….”
Dering telp di rumah tante yang berteriak berkali-kali, sepertinya meminta kepada semua penghuni rumah untuk segera diangkat. Tante sedang di teras, berbincang dengan ibu penjual sayur yang baru saja dibeli daganngannya, kakak sepupuku sedang mencuci baju, aku yang sedang menggendong si kecil anak kakak sepupuku, tergopoh-gopoh segera mengangkat telp genggam di atas meja visi.
Ternyata dari kakak sepupuku yang lain. “Lin, td ade telp ke teteh dan bapak… minta tolong anterin kaos,celana training dan gesper ke sekolah. Lina bisa bantu ga hubungi temen lina yang tukang ojek untuk antar? Katanya ditunggu sebelum jam 9 lin. Makasih ya…” Begitu kurang lebih inti pembicaraan kami.
Deg..hatiku miris. Ya Allah… ini untuk kesekian kalinya, adik sepupuku ketinggalan keperluan sekolahnya. Entah sudah berapa kali ia mengalaminya. Yang jelas… baru saja skitar 3-4 minggu yang lalu, tante cerita kepadaku, bahwa putra bungsunya itu minta diantar berkas-berkas sekolah yang akan dilegalisir. Eh, sekarang kejadiannya terulang kembali. Hari ini om, yang biasanya mengantar barang2-barangnya jika tertinggal, sedang pergi keluar.
Setelah menaruh telp hitam di tempatnya, ingatanku tertuju pada pak kumis, tukang ojek yang mangkal di pasar klender dekat rumah mertuaku. Kebetulan, aku pernah meminta no.hpnya, untuk jaga-jaga, siapa tau aku butuh ojek.
Beberapa menit setelah telp itu..tante masuk ke dalam rumah, karena ibu penjual sayur telah pamit pergi. Kuceritakan kepada beliau tentang telp dari teteh. Tante terlihat sedih. Yaa.. aku tau bagaimana perasaan beliau. Tante pasti sedih karena si bungsu belum juga bisa mandiri. Padahal, beberapa bulan lagi ia harus bisa hidup sendiri, jika diterima di perguruan tinggi di luar jabodetabek. Ah, adikku…
Sementara tante sedang menyiapkan barang pesanan adik sepupuku, aku cari-cari nama pak kumis di hp. Alhamdulillah, no.nya masih ada. Segera kuhubungi pak kumis. Bunyi nada sambung pun terdengar. Namun, berkali-kali ku tekan tombol redial, tetap saja tak ada ada respon dari seberang sana. Aku ingat pernah juga menyimpan no.hp abang ojek di pangkalan lain yang jg dekat rumah mamah. Setelah beberapa kali ku hubungi, hasilnya sama saja. Nihil!
Waktu di jam dinding menunjukkan pukul 8.15. Aku bingung. Bagaimana nih, sebentar lagi jam 9? Kalau tidak ditolong, kasihan si ade... Bisa saja ia mendapat hukuman dari gurunya. Otakku terus berfikir. Aha! Aku ingat, di dekat rumah ibuku juga ada pangkalan ojek. Dan ada si joko, yang pernah mengantarku ke rumah tante. Segera saja ku telp rumah, untuk meminta tolong kepada adik perempuanku untuk pergi ke tukang ojek. Ternyata ia sedang memasak, sehingga akhirnya ibu yang pergi ke pangkalan ojek. Duh, sebenarnya aku tak enak sekali meminta tolong kepada beliau. Tapi, bagaimana lagi, ini sudah usaha terakhir.
Tak lama kemudian ibu mengabari bahwa joko tak ada di pangkalan. Beliau juga sempat mendatangi rumah joko yang tak begitu jauh dari pangkalan, untuk meliahat apakah ia ada disana atau tidak. Karena tak ada, akhirnya ibu kembali ke pangkalan ojek, mencari tukang ojek lain dan meminta no.hpnya, untuk diberikan kepadaku. Ya Allah… hatiku jadi semakin merasa tak enak dan sedih, karena telah membuat repot ibuku. Maafkan aku ya bu…
Akhirnya kuhubungi, no.hp tukang ojek yang diberikan ibuku. Kutanyakan kepadanya apa ia bisa mengantar barang ke SMU di pulomas, di tengah-tengah hujan begini? Alhamdulillah, ia bersedia. Segera saja, kuminta ia datang ke rumah tante, yang tak begitu jauh dari rumah ibu. Tentunya, aku pun memberi tahu rutenya, karena ia belum pernah ke sini.
Hanya sekitar 10 menit, tukang ojek itu datang, dengan pakaian yang agak basah, karena tak memakai jas hujan. Ya Allah, aku jadi kasihan melihatnya. Apa tak kedinginan dia? Sebelum aku serahkan barang & kertas yang berisi rute ke tempat tujuan, aku menawarkan kepadanya pinjaman jas hujan. Ternyata dia menolak, karena ia juga sudah punya. Dan ia pun segera memakainya. Ya ampuun.., kenapa dia tak memakainya dari awal perjalanan?
Setelah ku memberitahu rutenya, aku sampaikan kepadanya untuk menitipkan barang milik adikku itu ke satpam. Biar nanti, adikku yang akan mengambilnya. Segera setelah uang jasa ojek kuberikan, bapak bertubuh gemuk segera meluncur pergi. Alhamdulillah….selesai juga akhirnya. Hatiku lega. Mudah-mudahan bisa segera sampai di tujuan, sebelum jam 9. Sekitar dua puluh menit berlalu, tepatnya pukul 9 kurang 5 menit, sebuah pesan tertera di hpku : mba..sudah saya kasih ke pak satpam. Alhamdulillah…aku kembali mengucap syukur.
***
Setelah mengurusi permintaan adik sepupuku, aku mengambil sarapan. Di tengah-tengah setiap suapan, pikiranku melayang mengingat kejadian tadi. Satu demi satu bayangan melesat di benakku. Sambil fikiranku mambayangkan kejadian tersebut, tanganku mengambil telepon genggam. Kulihat kembali sms-sms dari adikku tadi pagi. Ya, tadi pagi, sambil aku berusaha menghubungi beberapa tukang ojek, aku juga sempat ber-sms dengannya.
Lina : De.. apa lagi yang mau disiapkan? Kaos, celana, gesper. Ada lagi? Temen teteh mau antar ke sekolah
Ade : Kalo ngerepotin ga usah aja teh
Lina : Yaa..gmn sih de, orangnya kan udah dihubungi
Ade : Oya, udah. Kalo g ngerepotin mah lanjut aja
Duh, sebenarnya sempat sedih juga membaca sms itu. Dia tak tahu, bagaimana repotnya orang-orang yang membantunya. Tadinya, aku mau jawab sms itu dengan kalimat-kalimat yang bernada “pengingatan & pesan/nasihat”. Intinya agar ia tidak membuat repot orang rumah, tidak mengulanginya lagi, dan harus bertanggung jawab sendiri. Ah, tapi aku batalkan niat itu. Karena aku tak ingin “tembak di tempat”. Aku ingat betul pesan guru parentingku, untuk tidak langsung menyalahkan atau menasehati anak ketika anak tersebut sedang bermasalah. Lagipula, jika aku kirim sms yang panjang-panjang, pastilah tidak akan masuk ke dalam otak adikku, karena fikiran laki-laki itu cenderung ‘to the point’.
Aku juga sedih, karena di sms adikku itu, terkesan ia tak merasa bersalah. Tapi.. ya sudahlah. Toh, aku tak mencari permintaan maaf atau ucapan terima kasih darinya. Niatku hanya ingin membantunya, karena pasti ia akan mendapat hukuman dari gurunya. Untung saja, yang ketinggalan hanya kaos olahraga. Bagaimana kalau yang ketinggalan adalah barang yang benar-benar penting, seperti kartu ujian ?
Ups… tiba-tba, fikiranku terusik dengan pertanyaan : Lin, bener ga sih tindakanmu membantu ade? Apa ya dampaknya terhadap dirinya? Mengapa selama ini, ia berkali-kali mengubungi keluarga di rumah untuk diantar barangnya yang tertinggal atau lupa tak terbawa?
Aku terus merenung mancari-cari jawabannya, sambil kubuka-buka kembali folder parenting yang ada di otakku. Aha! I got it. Ya, aku ingat Bunda Elly pernah menjelaskan tentang kasus yang sama dengan adikku ini.
Dalam sebuah seminarnya yang bertema : 10 kesalahan orang tua yang tak sengaja dilakukan dalam pengasuhan anak, kesalahan 8 adalah : Tidak Memisahkan Masalah Siapa. Seringkali, tanpa disadari kita sebagai orang tua, tidak memisah-misahkan berbagai persoalan yang ada. Apakah ini masalah anak atau masalah orang tua. Terkadang, kebanyakan dari kita, karena kasih sayang yang besar dan jiwa naluriah sebagai sosok yang ingin melindungi dan membantu, kita sering tak tega jika anak mengalami masalah. Sehingga secara otomatis, kita selalu ingin membantu buah hati kita yang sedang kesulitan itu.
Bunda mencontohkan, ada seorang anak SD yang menghubungi ibunya, karena buku PR nya tertinggal.
Anak : Mama… ada di rumah kan sekarang?
Mama : Iya nak, tapi mama sebentar lagi mau berangkat nih. mama mau rapat RW
Anak : Kalau kakak ma ?
Mama : Ya, masa kamu lupa. Tadi pagi kan kakak ikut ayah, minta diantar ke tempat les. Emang ada apa sih nak ?
Anak : Gini ma.. Sebentar lagi kan jam pelajaran matematika. Tapi, tenyata buku PR ku ketinggalan di atas meja TV mah. Tadi malem aku taro disitu abis ngerjain. Mama ke sini sebentar ya.
Mama : Ya ampun de.. kok bisa sih ketinggalan ? Mama ga bisa nih. Sudah mau berangkat. Mama ga enak lah kalau telat.
Anak : Yaaa… Mama, masa tega banget sih sama aku. Kan Pak Budi galak banget kalo nyetrap. Nanti kalo aku di suruh berdiri didepan kelas bagaimana? Gini aja deh ma, mama ke pangkalan ojek deket rumah kita sebentar, trus mama suruh deh tukang ojek kasih bukuku ke sekolah.
Mama : Yaa, nak... Mama kan mau perginya ke arah sebaliknya. Mama ga lewatin pangkalan ojek
Anak : Kan cuma sebentar ma. Ayo dong ma....please...
Mama : Aduuh, kamu ini ngerepotin aja sih. Ya sudah, mamah ke sana. Tapi besok-besok, jangan kayak gini lagi ya?
Anak : Iya mah, iya. Aku janji deh.. Makasih ya ma...
Sama persis kan kasus yang ku alami dengan yang dicontohkan Bunda Elly. Aku yang sempat sedih menjadi tersenyum mengingat kejadian tadi pagi. Betapa aku yang sudah tahu teorinya, ternyata kebablasan juga. Ah, memang perlu proses pembelajaran untuk menerapkan teori ke dalam praktek.
Kembali aku mengingat-ngingat pesan Bunda Elly. Kata Bunda, sebenarnya kita tidak perlu membantu mereka, seperti pada kasus ibu & anak di atas. Jika kita terlalu sering mengulurkan tangan terhadap masalah-masalah anak, secara tidak langsung kita justru tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa tegar dan mandiri dalam menghadapi konsekuensi atau resiko dari perbuatannya.
Hmmm...iya ya.. Bisa jadi yang membuat adik sepupuku tak juga bisa mengambil pelajaran adalah karena selama ini, ia tak pernah menerima konsekuesi dari hasil perbuatannya itu, misal ia diberi hukuman karena tak membawa perlengakapan sekolahnya. Dan karena adikku tak pernah mendapatkan konsekuensi itu, ia tak pernah memikirkan dalam-dalam tentang ’keteledorannya’. Akibatnya, kembali dan kembali lagi ia mengulangi kesalahan.
Bagi para orang tua, mungkin terasa berat membayangkan anak mendapat kesulitan/kesusahan dari konsekuensi itu. Karena konsekuensi yang diterima, pastilah tidak enak bagi anak. Sama seperti ku, dalam menangani kasus adikku tadi pagi. Aku tak ingin ia mendapat hukuman.
Bunda Elly mengingatkan, agar kita dapat ”tega”, kita harus yakin bahwa ”ketegaan” itu bukan karena kita tidak sayang kepada anak-anak kita, tapi karena kita memiliki misi dibaliknya. Yaitu kita sedang mengenalkan konsekuensi alamiah/logis atau resiko yang akan muncul dari setiap perbuatan dan juga mengajarkan tanggung jawab dalam memecahkan masalahnya sendiri. Bunda juga menambahkan, dengan merasakan konsekuensi dari perbuatannya, anak akan dapat belajar untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam setiap perbuatan yang ia lakukan.
Selain itu, anak juga dapat belajar tentang arti ’penderitaan’ dan ’sikap tangguh’ dalam hidup ini. Karena tidak selamanya hidup seseorang itu lancar dan bahagia. Inilah yang akan menajamkan ”Adversity Quotien” (kecerdasan ketangguhan) dalam hidup. Anak yang memiliki AQ tinggi, akan menjadi "THE CLIMBER", yaitu orang yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan, hambatan, dan tantangan dalam kehidupannya di masa depan. Dan para climber yakin bahwa mereka akan akan meraih kesuksesan & keberhasilan dalam hidupnya.
Subhanallah... hari ini, aku diberi pelajaran langsung oleh Allah, untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik.
Terima kasih ya Allah, atas pelajaran ini. Semoga aku & suami, dapat terus belajar dan menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami.
Terima kasih Bunda, atas nasihat-nasihat parenting yang kau berikan. Semoga Allah membalas setiap perjuanganmu di dunia pengasuhan dengan limpahan kebaikan & keberkahan. Aamiin..
***
Penghujung Februari 2011
Untuk adikku sayang, tulisan ini semata-mata bukan untuk membeberkan kesalahanmu ke muka publik. Tulisan ini teteh buat, sebagai pengingat bagi diri sendiri, dan sebagai contoh yang bisa diambil manfaatnya, bagi siapa saja yang sedang dan terus belajar menjadi orang tua yang baik.
Semoga kelak engkau menjadi seorang pemuda yang sholih, cerdas dan mandiri...
Sepenggal Kisah dari Rekaman Kick Andy Episode “Ancaman Sex Bebas di Kalangan Remaja”
Tulisan Almarhumah Suherlina Yusuf:siapa dia???pernah kuposting di sini
Didiklah anak-anakmu untuk masa yang bukan masamu...
Begitulah nasihat yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib R.A. tidak kurang dari 13 abad yang lalu. Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa kelak, anak-anak kita akan menghadapi zaman yang sangat berbeda dengan zaman kita. Karena itu orang tua wajib menyiapkan anak-anaknya agar mereka menjadi pribadi yang kuat dan tangguh menjalani kehidupan mereka, dengan berbagai tantangan yang ada.
Saat ini, seperti yang sudah sering kita saksikan, dengar atau baca dari berbagai media, pergaulan remaja sudah sangat mengkhawatirkan. Pergaulan bebas dan berita-berita seks bebas diantara mereka sangat mengiris hati. Mulai dari pasangan muda mudi yang melakukan seks bebas atas dasar suka sama suka, hingga kasus pemerkosaan (maaf) yang tidak hanya terjadi dikalangan orang dewasa, tapi juga dikalangan remaja dan anak-anak. Seperti kasus remaja SMA memperkosa teman SMP-nya atau anak SMP mencabuli tetangganya yang masih SD dan balita.
Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa anak-anak kita berani melakukan perbuatan dosaitu?
Inilah tema yang diangkat oleh program Kick Andy dalam episode “Ancaman Sex Bebas di Kalangan Remaja” yang akan ditayangkan pada Jum'at, 3 Februari pkl 21.30 dan Minggu, 5 Februari pkl. 14.30 di Metro TV.
Kebetulan, aku mengikuti acara rekaman episode tersebut. Karena itulah, aku ingin berbagi pengalamanku kepada teman-teman...
--
Aku mendapat undangan tapping acara Kick Andy tersebut, dari Yayasan Kita & Buah Hati, tempat kerjaku dulu. Dari informasi yang kudapatkan, Bunda Elly Risman, Psi sebagai direktur YKBH, akan menjadi salah satu nara sumbernya. Aku senang sekali mendapatkan undangan itu. Karena sudah lama aku tak bertemu dan mendengarkan nasihat beliau seputar dunia parenting. Dan sudah lama, aku punya niat menjadi penonton langsung di dua acara Metro TV : Mario Teguh & Kick Andy. Karena menurutku, acara MTGW dan kisah-kisah yang ada di Kick Andy, sering memberikan inspirasi.
Pada hari H-nya, Rabu 19 Januari 20011, aku ditemani ibuku datang bersama para bunda-bunda trainer parenting dari Rumah Parenting YKBH-Bekasi. Sampai di studio Metro TV, di antara banyak kerumunan orang, aku melayangkan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu. Mencari sosok-sosok yang tentunya aku kenal. Akhirnya aku mendapati mereka. Ya, mereka adalah pejuang-pejuang pengasuhan yang tergabung dalam YKBH, klien-klien YKBH dan juga sahabat-sahabat yang satu perjuangan dengan YKBH. Beberapa diantaranya kulihat ada yang berasal dari ASA Indonesia (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia), Menpora, Menkokesra dan Kowani. Dan diantara mereka ada satu sosok orang tua yang kukenal. Ya Allah, ternyata Ibunya Bunda Elly. Kucium tangannya dengan penuh hormat & kagum. Subhanallah… di usianya yang sudah senja, beliau tetap semangat dalam mendukung perjuangan kami.
--
Acara rekaman dimulai sekitar pukul 19. Acara itu, terdiri dari 3 bagian/sessi. Sessi pertama dan kedua, masing-masing menampilkan nara sumber perempuan dan laki-laki yang menjalani “profesi” sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Mereka menuturkan kisahnya mulai dari pertama kali mereka menjalani “profesi” tersebut, mengapa mereka mau melakukannya, siapa saja yang menggunakan jasa mereka, apa yang mereka rasakan, sampai pengakuan bahwa mereka sebenarnya ingin keluar dari dunia gelap tersebut. Sedangkan sessi ketiga menampilkan seorang model yang masa kecilnya pernah mengalami kekerasan seksual, lalu orang tuanya bercerai, dan akhirnya ia sempat terjerumus ke dalam dunia gelap : narkoba dan pergaulan bebas.Namun, akhirnya kini ia telah bertobat.
Teman-teman yang sering menonton program Kick Andy, tentu tahu bagaimana Bung Andy membawakan acaranya dengan bahasa yang ringan, santai, dan terkadang di sela-sela pertanyaannya, ada humor yang membuat para penonton tertawa. Begitu pula dalam membawakan acara di sessi ini, meskipun menurutku topik dan bahasannya lumayan berat, tapi tetap saja Bung Andy memandu acara itu dengan gaya khasnya : santai dan humoris.
Padahal aku tahu, hati Bunda dan rekan-rekan seperjuangan lainnya pasti sangat tidak nyaman setiap kali mendengarkan pengakuan dari para nara sumber. Seandainya teman-teman juga ikut dalam syuting ini, mungkin teman-teman juga akan melakukan sama dengan kami : banyak menghela nafas, menggeleng-geleng kepala, mengelus dada saat mendengar realita yang sungguh memilukan hati.
Kebetulan aku duduk di barisan ke-tiga di belakang kursi Bunda, sehngga aku dapat melihat dengan jelas respon beliau. Kulihat beberapa kali Bunda Elly menghembuskan nafas panjang, ketika mendengar hal-hal yang mencengangkan dari para remaja itu. Dan beberapa kali pula kulihat wajahnya yang gelisah. Aku tahu, bagaiman perasaan beliau. Jika aku berada disampingnya, mungkin ia akan berkata kepadaku : Ibu sesak nafas, nak..
Benar saja dugaanku..., belum lama syuting berjalan, pada saat break, seorang orang rekan Bunda meninggalkan studio karena ketidaknyamanan dengan suasana dialog yang terjadi. Setelah itu menyusul pula protes dari rekan Bunda yang lainnya. Dialog singkat yang terjadi antara beliau dengan Bung Andy berujung dengan sikap Bung Andy yang meminta beliau untuk meninggalkan studio, meskipun beliau sempat berkata : akan mengikuti syuting ini dulu, dan melihat-lihat kondisinya. Namun, tetap saja Bung Andy meminta beliau untuk keluar, dengan alasan telah mengganggu suasana rekaman. Akhirnya rekan Bunda Elly tersebut pun meninggalkan ruangan setelah bersalaman dengan Bunda.
Aku yakin kedua Bunda itu bukannya tidak setuju dengan topik yang akan dibahas. Aku juga kenal dengan salah satu Bunda tersebut. Toh, beliau berdua juga memperjuangkan dan concern pada masalah anak&remaja. Menurutku beliau berdua sangat tidak nyaman dengan gaya dan suasana dialog yang terjadi. Dimana topik ini adalah masalah yang serius, tapi mengapa di dalamnya diwarnai canda dan tawa. Ternyata, rekan-rekan Bunda tersebut juga tidak mendapatkan info yang utuh/benar mengenai acara itu. Kedua bunda tersebut mengira, yang akan menjadi nara sumber di panggung adalah Bunda Elly. Namun ternyata, yang beliau dengarkan adalah penuturan remaja-remaja yang menjadi pelaku pergaulan/seks bebas, yang tak layak dipertontonkan di depan umum. Apalagi, penonton yang hadir di di studio juga banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa.
Sebenarnya, aku juga tidak mendapatkan info yang lengkap. Di awal, kukira Bunda Elly yang akan berada di panggung. Namun kenyataannya, Bunda duduk di bagian depan kursi penonton, yang akan dimintai pendapatnya di tengah-tengah acara. Meski begitu.. aku fikir antara Bunda dan Pihak Kick Andy sudah ada kesepakatan sebelumnya. Dan aku yakin, Bunda berkenan hadir menjadi nara sumber ahli yang hanya duduk di kursi penonton, karena beliau punya visi & misi yang ingin beliau sampaikan.
Ah, aku tak ingin membahas terlalu panjang mengenai insiden tersebut. Masing-masing pihak memiliki argumen terhadap prilaku yang mereka lakukan, baik kedua Bunda tersebut maupun Bung Andy. Dan kedua pihak juga telah membuat catatan/penjelasan sendiri melalui media mereka.
--
Dari dialog antara Bung Andy dan Bunda Elly saat membahas kasus remaja ini, aku mengambil beberapa poin penting.
*Kita sedang PINGSAN*
Menanggapi pergaulan bebas di kalangan remaja, Bunda Elly berpendapat bahwa ada peran orang tua yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu. Kita sebagai orang tua berada dalam kultur “PINGSAN”. Pingsan ? Ya…tak sadar, bahwa ancaman yang sama juga sedang mengintai anak-anak kita juga. Gelombag arus informasi dari berbagai media, tak dapat dibendung oleh anak-anak. Termasuk yang berkaitan dengan pornografi.
Dari data yang dimiliki Yayasan Kita dan Buah Hati, anak-anak terpapar pornografi dari berbagai media di sekitar mereka : komik, games, hp, internet, film TV, VCD/DVD, majalah, dan koran dengan prosentase yang berbeda-beda dan naik turun peringkatnya dalam beberapa kurun waktu. Yang mencengangkan, media-media itu adalah yang dekat dunia anak-anak. Komik misalnya, betapa anak-anak sangat dekat dengan media ini. Dan jangan sangka, bahwa semua komik anak-anak aman. Banyak komik yang digandrungi anak-anak, ternyata disusupi pornografi. Begitu pula dengan games baik games PS, ataupun games online.
Beraneka media, bermacam-macam pula cara anak-anak mendapatkan media tersebut. Ada yang dibelikan orang tua, ada yang pinjam teman, tapi yang parah, bila si anak mendapatkan dari orang tuanya. Seperti yang dituturkan salah satu nara sumber, ia mengaku pertama kali melihat video porno milik ayahnya. Ia mengambil secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ayahnya. Dan ia menontonnya berulang-ulang. Masya Allah…
Disitulah salah satu letak “kepingsanan” kita. Kita lalai dalam menjaga anak-anak kita dari media-media yang seharusnya tidak menjadi konsumsi mereka. Kita juga sering kali “LATAH”/ikut-ikutan. Tetangga sebelah membelikan HP/PS/internet untuk anaknya..lalu kita ikut pula membeli barang itu untuk anak kita, tanpa ada tujuannya. Orang tua sering kali hanya membelikan fasiltas, namun tidak memberikan pengarahan yang tepat dan pengawasan. Anak dibiarkan berselancar bersama media itu, tanpa kita menyadari bahaya besar sedang mengancam mereka.
Maka tidaklah mengherankan, jika saat ini remaja-remaja SMP & SMU sudah berani melakukan seks bebas. Karena sejak kecil fikiran mereka telah disusupi materi-materi pornografi.
Ayah Bunda… yuk tingkatkan kewaspadaan terhadap media yang dikonsumsi buah hati kita.
*Berayah ada-berayah tiada. Beribu ada-beribu tiada*
Dalam perkembangannya, anak-anak membutuhkan perhatian yang penuh dari kedua orang tuanya. Namun pada realitanya, karena kesibukan orang tua, terkadang orang tua lupa dengan kuantitas dan kualitas waktu mereka bersama anak-anak.
Banyak diantara anak-anak kita yang berayah ada-berayah tiada, beribu ada-beribu tiada. Apa artinya ? Orang tua hanya hadir secara fisik, tapi tidak secara spiritual dan emosi, demikian Bunda Elly menjelaskan. Itulah mengapa disebut antara ada dan tiada. Ada hanya secara fisik. Tapi, hubungan emosi antara orang tua dan anak tidak terjalin baik. Begitu pula dengan bimbingan spiritual dari orang tua ke anak yang kosong.
Maka yang terjadi pada anak-anak yang seperti itu, mereka akan mencari kasih sayang dan perhatian dari lingkungan luar. Entah dari teman yang akhirnya dijadikan pacar, narkoba, pergaulan bebas, dan akhirnya terjerumus pada seks di luar nikah.
Seperti yang dituturkan oleh nara sumber ketiga, ia mengisahkan betapa sedihnya, ketika ayah ibunya bercerai. Sampai-sampai ia menciptakan lagu singkat (dan akhirnya ia nyanyikan di acara tsb) tentang kerinduannya pada sang ayah. Di salah satu syairnya menyatakan, (kurang lebih seperti ini) : “Jika saja aku mendapatkan kasih sayang yang penuh darimu, aku tak akan mencarinya dari yang lain. Karena itu sudah cukup bagiku.” Sesuai bukan dengan pernyataan Bunda Elly?
Oya, Bunda juga bilang bahwa kita termasuk “The Fatherless Country”, sama seperti beberapa negara di luar sana yang sudah kehilangan Role Model keayahan. Anak-anak tak lagi memiliki figur ayah yang dapat dicontoh. Bukan karena ayah-ayah kita yang tidak baik, tapi lebih kepada : berayah ada-berayah tiada, sehingga antara anak dan ayah ada jurang pemisah yang jauh. Anak tak dapat mengenal sosok ayahnya dengan baik dan tak mendapat teladan dari sang ayah.
Untuk para Ayah, kembalilah ke rumah...
*Anak membutuhkan validasi dari orang tuanya.*
Apa bentuk validasi itu ? Ada 3 P : Penerimaan, Penghargaan dan Pujian
Penerimaan
Dari penuturan Bunda Elly, aku mengambil kesimpulan bahwa kita sebagai orang tua harus menerima anak secara utuh, apa adanya… dengan segala kelebihan dan kekuranggannya. Kalau kelebihan, sudah pasti kita menerimanya, bahkan sering membangga-banggakannya. Tapi… kalau kekurangan atau hal-hal yang ia tidak miliki? Kadang-kadang kita sulit menerimanya. Inilah yang kadang anak merasa tidak diterima oleh orang tua atau lingkungan keluarganya.
Penghargaan & Pujian
Seperti halnya orang dewasa, anak-anak kita butuh dihargai. Dihargai pendapatnya, dihargai keputusannya, dihargai prestasinya dan juga mereka butuh pujian. Terkadang, kita sering lupa akan hal yang satu ini.
Hmmm… aku jadi teringat pada contoh bunda Elly di sebuah seminar. Ada seorang anak remaja putri yang jarang membantu pekerjaan ibunya . Suatu hari, entah apa yang sedang terjadi pada anak tersebut, ia menyapu salah satu ruangan di rumahnya. Ketika Ibunya melihat hal ini, spontan sang ibu berkata : “Wah, tumben banget anak ibu ? Ada angin apa nih, sampai kamu rajin banget. Begitu dong seharusnya anak perempuan, yang rajin bantu-bantu ibunya”. Deg, hati si anak sangat sedih. Alih-alih pujian yang ia terima, malah sindiran dan nasihat yang pertama kali mendarat di telinganya.
Di contoh lain, ada seorang ibu yang mengeluh, ketika mendapatkan PR anaknya salah 4. Padahal dari 20 soal yang ia kerjakan, 16nya benar! Namun, sang ibu malah mempermasalahkan 4 nomer yang salah. Alih-alih menghargai usaha anaknya, ibu tersebut malah menyalahkan anaknya, mengapa ia tidak bisa mengerjakan keempat soal tersebut.
Begitulah Bunda memberikan contoh, yang menyiratkan batapa pentingnya penghargaan dan pujian bagi anak.
Penerimaan, penghargaan dan pujian akan membantu anak tumbuh dan berkembang dengan konsep diri yang positif.
*Bagaimana jika anak sudah terjerumus ?*
“Jangan panik”, begitu pesan Bunda, jika orang tua mendapatkan anaknya terjerumus dalam pornografi atau pergaulan bebas. Jika kita panik, dan menyalahkannya, itu hanya membuat situasi menjadi lebih buruk. Hal yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah merangkulnya. Karena sesungguhnya mereka adalah korban. Korban dari arus pornografi, dan bisa jadi korban dari keabaian/kelalaian kita sebagai orang tuanya.
Bimbing anak untuk dekat kembali kepada Allah. Karena ini merupakan langkah utama agar anak bisa keluar dari dunia gelapnya itu. Lalu dukungan positif dari orang tua dan bantuan dari psikolog/terapis akan dapat membatu anak kembali kepada kehidupan yang normal.
---
Begitulah hikmah yang dapat kubagi dengan teman-teman. Semoga ada manfaat yang bisa kita petik, terutama bagi diri & keluarga kita. Anak adalah amanah Allah. Mari kita jaga mereka, agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka, anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisaa : 9)
Untuk teman-teman yang akan menonton tayangan ini, ada satu pesan dari Bunda Elly yang cukup bijak, yang intinya : Janganlah hal ini hanya dijadikan sebuah berita, yang kita terkaget-kaget saat mendengarnya, namun setelah itu kita melupakannya dan tak ada yang kita perbuat.
Selamat menyaksikan…
***
Yaa Rabbanaa, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang sholih… dan berikan kekuatan dan bimbingan kepada kami agar dapat menghantarkan mereka ke zamannya…
Tulisan Suherlina Yusuf: "Menunggu"
Tulisan Almarhumah Suherlina Yusuf:siapa dia???pernah kuposting di sini
Waiting is boring…
Pernah menunggu kedatangan teman di halte bus?
Atau pernah antri di penjualan tiket kereta yang cukup panjang?
Atau untuk teman2 odapus, seperti jg saya, pasti pernah & sering harus menunggu antrian di lab atau ruang periksa dokter.
Pasti dong, tak asing dgn kalimat di atas. Begitulah, katanya… menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apalagi jika yang ditunggu, tak kunjung datang.
Saat menulis catatan ini, aku pun sedang menunggu. Menunggu di sebuah ruangan yang cukup besar dengan dinding bercat putih dan terdapat banyak bangku-bangku panjang. Aku duduk di sebuah kursi diantara deretan bangku panjang itu, di antara laki-laki, perempuan, tua, muda, sampai anak kecil, yang juga ikut menunggu. Menunggu, panggilan dari speaker phone yang terus memanggil nomor urut antrian pasien satu persatu.
Kulihat di papan pengumuman elektronik, no.urutnya masih 60, sedangkan no.ku 85. Ffff… masih lama sekali. Ingin rasanya, keluar sejenak dari ruangan yang penuh orang ini dan berbau khas rumah sakit. Tapi, mau jalan-jalan ke mana ya? Keluar lab ini pun, yang ada hanya ruangan poli lainnya, yang juga dipenuhi oleh orang sakit. Mau turun ke kantin, jalan menuju lift lumayan jauh. Karena lift terdekat sedang rusak. Akhirnya kuputuskan saja untuk tetap duduk di sini. Sambil sedikit-sedikit berbincang dengan orang yang duduk di sampingku.
Di tengah-tengah waktu yang terus berjalan dan panggilan no.urut yang terus berbunyi, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Hei, bukankahkah dalam hidup ini, setiap orang juga sedang menunggu? Seperti yang tadi kutanyakan di awal, di luar sana banyak juga orang-orang yang sedang menunggu. Dan aku yakin, setiap orang ada yang pernah atau sedang :
menunggu panggilan lamaran kerja, menunggu datangnya jodoh atau menunggu kehadiran sang buah hati
Itulah beberapa diantara sekian hal yang secara sadar kita menunggunya. Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan, bahwa kita pun sedang menunggunya.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….” (QS. Ali Imron : 185)
Ya, itulah “KEMATIAN”. Sebuah pintu yang setiap manusia pasti akan memasukinya.
Sahabat…, kita sering lupa bahwa sesungguhnya di dunia ini kita sedang menunggu panggilan Allah untuk pulang ke kampung akhirat. Rumah kita yang abadi. Kita lupa dengannya, karena sering kali kesibukan duniawi melenakan kita. Kita akan ingat, ketika kita mendengar kabar duka tentang berita kematian tetangga, saudara, kerabat atau teman kita. Saat itulah kita tersadar, bahwa kita pun akan segera menyusulnya. Dan kita merasa kematian begitu dekat dengan kita. Ketakutan langsung menyelimuti diri kita, karena kita tak siap menghadapinya.
Sayangnya… kita tak punya nomor urut dari Allah. Seperti no.urut yang kumiliki saat mengantri di laboratorium RS ini, sehingga aku dapat mengetahui secara pasti, kapan aku harus masuk ke ruang periksa. Andai Allah memberi no.urut kepada manusia, dan memberi tahu kapan ajalnya akan datang, mungkin yang akan terjadi adalah kelak di syurga akan penuh dengan manusia. Dan tidak ada yang tinggal di neraka. Karena ketika manusia telah mendekati ajalnya, mereka segera bertobat dan mengisi hidupnya dengan ibadah & kebaikan.
Andai ku tahu
Kapan tiba ajalku
Ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai ku tahu
Kapan tiba masaku
Ku akan memohon Tuhan jangan Kau ambil nyawaku
……………………………………
Andai ku tahu
Malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu
……………………………………
(Andai Ku Tahu, by : Ungu)
Tapi di situlah, Maha Adilnya Allah. Allah membiarkan manusia untuk berbuat sesukanya, semau hatinya. Namun bagi setiap tindakan, Allah berikan ganjarannya. Bagi orang-orang yang hanya mencari kebahagiaan untuk kehidupan dunia dan melalaikan Tuhannya, telah disiapkan tempat kembalinya yang berasal dari api yang sangat panas. Dan bagi orang-orang yang disela-sela kesibukan dunianya, senantiasa bersujud, berdzikir dan berbuat amal sholih, maka bagi mereka kehidupan yang sungguh membahagiakan. Kehidupan yang penuh dengan nikmat.
***
Menunggu…
Sekarang, aku tak mau menganggap menunggu adalah hal yang membosankan dan membuang waktu. Karena di balik kegiatan menunggu terselip waktu luang, yang di dalamnya ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan. Lihatlah orang-orang jepang, yang ketika menunggu antrian, mereka disibukkan dengan membaca. Lihatlah para petani, yang ketika menunggu hasil panen padi tiba, mereka menanam tanaman lain.
Bagi para pencari kerja yang sedang menunggu dipanggil lamarannya,
ada hal lain yang bisa dilakukan yang jg dapat menghasilkan pendapatan.
Bagi yang sedang merindu datangnya pasangan hidup,
ada waktu untuk mempersiapkan diri dan belajar menjadi suami/istri yang baik.
Bagi yang sedang menanti-nanti hadirnya sang buah hati,
dapat memanfaatkan waktu untuk lebih mengakrabkan diri dengan pasangan & menimba ilmu utk menjadi orang tua yang hebat.
Dan yang paling penting di tengah-tengah kesibukan kita di dunia adalah bagaimana kita mempersiapkan diri, menyibukkan diri untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan kita di akhirat. Karena di dunia ini kita sedang menunggu. Menunggu sang malaikat Izroil yang akan datang menjemput kita. Entah kapan waktunya…
***
@Laboratorium RSCM, 22 Desember 2010
Alhamdulillah… Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengingatkanku & memberi hikmah dibalik menunggu.
Kamis, 01 Juli 2010
Percikan "That's All "by Tami Ferrasta,,, Ledakan Pertama
Hanya Allah yang akan mengingatkan kita.
Hanya Allah yang akan memberikan pencerahan dan memberikan
hidayah kepada kita
Banyak pristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan dalam perkawinan saya. Banyak sekali. Salah satu pristiwa yang paling melekat di hati saya adalah peristiwa seminggu setelah pernikahan kami. Hari itu kami sedang bertandang ke rumah Ibu di Rawamangun. Setelah sholat Dzuhur, Pepeng memanggil saya.
"Kamu sekarang istri saya. Saya harus memberitahukan kewajiban kamu sebagai perempuan Islam. Saya tahu kamu taat beribadah. Ada ibadah lain selain sholat yaitu Jilbab, hijab. Perempuan wajib menutup auratnya. Itu perintah Allah di dalam Al Quran," kata Pepeng dengan tenang.
Dhuuuaarrrrr! Bunyi ledakan itu terdengar kencang memecahkan kepala saya. Ternyata orang ini tidak asyik. Dia sok mengatur. Seperti ustad saja. Masak saya disuruh pake jilbab? Pokoknya, di hari itu dunia saya runtuh.Saya pun menangis sejadi-jadinya.
Saya lari ke dapur mengadu pada Ibu dan Mbak Dien, kakak perempuan Pepeng. Melihat saya menangis seperti itu, ibu dan Mbak Dien heran dan bertanya, kenapa saya menangis? Saya bercerita, Pepeng meminta saya memakai jilbab, padahal saya saya masih belum terpikir sama sekali untuk mengenakan jilbab. Saya masih suka tampil dengan gaya saya yang kelihatan modis, modern, atau apapun sebutannya. Pokoknya, jangan jilbab. Jangan suruh saya memakai hijab. Amit-amit! Teriak saya sekenanya dalam hati.
Pepeng tidak dibela sama sekali, dia malah dimarahi oleh ibu dan kakaknya itu. "Ada apa? Kok kamu memaksa istri kamu pakai jilbab? Memangnya kamu ustad, kamu mau jadi ustad?" Mereka bertanya seperti metraliur.
"Lho, memangnya kalau saya ustad, kenapa? Apa saya salah? Saya mengetahui dengan pasti kewajiban memakai jilbab bagi perempuan. Apa salah saya mengingatkan istri saya untuk mengenakan jilbab? Saya tidak memaksa kok" Pepeng memberikan jawaban yang sebenarnya mengena di hati saya.
Akan tetapi, rasanya Pepeng harus menunggu hingga saya siap. Terus terang, saya belum ada keinginan untuk mengenakan jilbab pada saat itu. Pepeng telah mengambil langkah. Akan tetapi, yang bisa dia lakukan selanjutnya hanya menunggu. Pepeng sadar betul, beribadah dalam hal ini mengenakan jilbab, harus timbul dari hati pemakainya. Paling tidak, dia sudah mengingatkan. Selanjutnya hati saya yang berproses mengolah omongan Pepeng.
"Selanjutnya, hanya Allah yang akan mengingatkan kamu. Hanya Allah yang akan memberikan pencerahan dan memberikan hidayah kepada kamu. Teliti hati nurani kamu, insya Allah suatu saat keinginan itu akan datang. Saya berdoa untuk kamu," begitu kata Pepeng bak ustad kondang menenangkan hati saya.
Hari-hari selanjutnya, Pepeng memang tidak pernah mengingatkan saya lagi untuk mengenakan jilbab. Dia menepati janjinya. Ia menunggu saat pemberian Hidayah dari Allah. Ia hanya menegur dan melarang, lagi-lagi dengan gayanya tujuh perdelapan melotot kalau saya keluar mengenakan celana pendek-biasanya saat saya keluar mau belanja. Seringkali saya sangat kesal.
Umur saya baru dua puluh dua tahun ustaaad, celoteh saya dalam hati mengobati rasa kesal yang selalu muncul.
Soal jilbab benar-benar hilang dari topik pembicaraan kami sekeluarga. Benar-benar sirna seolah-olah pristiwa itu tidak pernah terjadi. Sampai suatu ketika, tiga belas tahun kemudian, saat saya berusia tiga puluh lima tahun, saya memperoleh kesempatan untuk naik haji. Sehari sebelum kami berangkat ke Tanah Suci, saya melihat Pepeng tertawa sendiri di pojok kamar. Waktu itu, dia habis sholat dhuha. Kenapa lagi ini orang? Pasti dia dapat ide baru bikin orang tertawa, pikir saya. Saya harus hati-hati, jangan-jangan dia mau usil pada saya. Karena penasaran, saya pun bertanya, "Kenapa kamu tertawa-tawa sendirian?"
Ia menjawab, "Nanti saya ceritakan pikiran yang tiba-tiba muncul saat saya sholat tadi. Subhanallah, itu sesuatu yang membuat saya ingin segera ada di Tanah Suci," kata Pepeng sambil tersenyum penuh rahasia.
Sesampai di Tanah Suci, Tanah Haram Makkah, kami, terutama saya, hanya bisa menganga melihat dan merasakan suasana yang sangat menyejukkan. Pemandangan paling mencekam hati saya dan saya rasakan sebagai pengalaman rohani yang tidak bisa saya uraikan dengan kata adalah pemandangan di Tanah Haram. Semua aurat tertutup. Semua terkesan suci. Semua terkesan Ilahiyah. Semua terkesan ibadah. Semua terkesan cantik.
Subhanallah, ada sesuatu yang tidak saya mengerti membuncah di hati saya. Sebuah perasaan nyaman, percaya diri, bahkan merasa sangat cantik dengan pakaian ihram yang menutup rapat semua aurat saya. Perasaan bahagia, riang gembira, ceria itu tiba-tiba muncul melebihi semua perasaan yang pernah saya alami kalau saya punya pakaian baru yang cantik. Naluri saya sebagai Shopacholic sekaligus designer tiba-tiba tumbuh ke arah yang belum pernah saya rasakan.
Saya jelajahi semua toko di Pasar Seng, mal-mal di Mekkah dan Jeddah dengan satu tujuan: mencari dan mempelajari disain pakaian muslimah. Setelah sekian lama, akhirnya Allah menganugerahi kemantapan di hati saya. Saya menemukan ide untuk pakaian muslimah yang saya rasakan sangat pas, cocok, dan sangat serasi untuk saya pakai sehari-hari. Pakaian ini membuat saya merasa sangat cantik di hadapan Allah.
"Terimakasih ya Allah, Engkau buka hati ini untuk menyempurnakan ibadah seperti yang engkau perintahkan. Terimakasih ya Allah. Engkau berikan kepada saya keberanian untuk hijrah dalam hal berpakaian. Mulai hari ini saya tidak akan melepas hijab ini. Ajarkan agar saya juga bisa menghijabi hati ini menjadi hati yang selalu tunduk kepada-MU. Lindungi keluarga kami, suami saya, dan anak-anak saya," demikian saya bisikkan doa yang dalam ke hadirat Allah Azza Wa Jalla, di rumah-NYA yang suci.
Niat tersebut saya sampaikan kepada Pepeng. Dia tersenyum cerah sambil berkata, " Perempuan itu mau memakai sesuatu karena menurut dia pantas untuk dipakai. Banyak orang telanjang, tidak memakai apa-apa, atau berpakaian minim karena menurutnya itu pantas. Saya mengerti sekarang apa yang kamu persoalkan dalam hal berbusana. Saya mengerti mengapa kamu dan perempuan pada umumnya selalu sibuk berkaca putar-putar lima sampai sepuluh jam untuk masalah busana. Saya bahagia, Allah buktikan kebesaran-NYA. Jadi kamu merasa cantik dengan pakaian muslimah ini kan?" Begitu kira-kira uraian ustad Pepeng.
Susah berbicara dengan filsuf. Segalanya dipikirkan dan dicari inti permasalahannya. Nanti akan saya dongengi bagaimana ustad filsuf Pepeng yang lucu tapi garing ini menguraikan masalah pikiran dan pemikiran. Heboh sekali. Mencekam banget. Akan tetapi, karena dia punya kemampuan menguraikan yang baik dan kecerdasan linguistik yang tinggi, saya, kami sekeluarga benar-benar mengerti apa yang biasanya akan ia sampaikan. Saya bersujud, bersyukur di hadapan Ka'bah.
"Terima kasih Allah, Engkau karuniai saya seorang Pepeng dan empat orang Pepeng kecil yang sedang menunggu kepulangan kami dari undangan-MU, ya Allah."
"Terima kasih, Peng. Terima kasih atas kesabaranmu menunggu bojo-mu yang pecicilan ini berubah menjadi wanita cantik seperti yang ditetapkan Allah. Doa kamu terkabul Peng. Doa agar kita semua dicintai Allah Azza Wa Jalla. Terima kasih."
Langganan:
Postingan (Atom)