Selasa, 28 Februari 2012

A Decision

"Finally, suatu saat Saya akan menikah", katamu suatu hari.
"Kapan nduk?", tanya ibumu.
"Entahlah bu", jawabmu.
Seseorang telah memutuskan untuk menikah.

"Jangan nangis ya sayang", kataku.
"Ummi, jangan pergi", katamu.
"Nanti Ummi pulang lagi", kataku.
"Oh, Ummi nanti pulang lagi ya, nanti Kia antar ummi ya", katamu.
Keputusan akhirnya membawa ummi harus pergi.

Detak jantung, keringat, dan tekad. Hal yang biasa turut hadir ketika keputusan itu akhirnya harus ditetapkan. Ketetapan hati, kemantapan pikiran, perasaan tenang. Hal lain yang turut serta pula. Namun mengapa seperti kita akan mengeluarkan inti dari bisul, harus bersusah payah. Pukul 11 pagi hingga 11 malam telah membuatnya lelah ketika ia harus mengeluarkan biji bisul yang membuatnya tak nyaman, namun keputusannya sudah bulat biji bisul itu harus keluar segera. Rasa sakit yang tak enak dengan nyut-nyutan yang luar biasa menanti detik-detik keluarnya biji bisul itu. Walau ada bekas setelahnya, yang utama adalah tujuan sudah tercapai. Biji bisul sudah keluar. Toh ada vitamin dan lotion ataupun minyak tawon yang bisa dipakai menghilangkan bekas bisul.

Keputusan sebenarnya adalah sebuah proses panjang. Ia bermula dari pembelajaran dan perenungan yang panjang. Juga membutuhkan bahan, pengalaman, dan data. Otak kita sudah terpola untuk itu. Walaupun ada orang yang memutuskan sesuatu terburu-buru, atau cepat karena memang harus segera membuat keputusan, namun itu akhirnya timbul dari pengalaman. Pengalaman panjang seseorang di masa lalu ataupun pengalaman orang lain yang akhirnya ia ikuti dan diharapakan menghasilkan hasil yang sama. Atau paling tidak mendekati.

Ketika saat ini pemerintah akan menaikkan harga BBM, tentunya telah melewati proses yang panjang. Mungkin keputusan yang diambil tidak menyenangkan publik, tapi keputusan itu harus dibuat. Dasarnya apa, ya cobalah baca-baca berita ya teman, hehehe...Seorang teman menanyakan, "Jika istikarah itu bagaimana caranya?". Saya hanya mengatakan, Sholat saja dua rakaat. Lalu niatkan untuk menentukan pilihan. Jika pilihannya belum ada, ya Sholat hajat. Pernah seorang teman istikarah untuk menentukan pilihan jodoh dan dia memilih dari 5 orang wanita. Hmm, banyak banget ya. Terkadang memang begitu kok, "begitu banyak wanita di dunia ini, cuma bingung milihnya yang mana. Hehe...complicated relationship. Seorang direktur sedang bingung menentukan seorang stafnya untuk menjadi pimpinan proyek, biasanya dari personal apraisalnya, yang mana yang paling bagus kinerjanya, paling pas untuk posisi pimpro. Seorang auditor menentukan pendapatnya atas laporan keuangan, apakah disclaimer atau wajar dengan pengecualian juga membutuhkan data dan bahan, data hasil audit tentunya. 

Ya, sebuah keputusan tetap membutuhkan bahan, pengalaman, dan data. Keputusan adalah hasil dari contemplatif, perenungan. Keputusan yang terburu-buru dan tak mempertimbangkan banyak hal tentunya hasil yang didapat kurang baik. 

Kita sering melihat dan membaca berita. Seorang pencuri sendal dihukum penjara sekian tahun sedangkan koruptor tidak diputus-putus hukumannya. Apa sebab? Sebuah keputusan yang diambil oleh seorang hakim pengadilan kasus pencurian sendal tentunya lebih sederhana. Hakim lebih mudah dalam menelaah, membaca, menganalisa berkas dan kesaksian. Tak perlu waktu lama. Tak ada intrik-intrik, tak ada penipuan dan tak ada kebohongan dalam bersaksi. Walaupun ada kadarnya tentu tak lebih besar dari kasus korupsinya Angie misalnya. Kasus korupsi tentunya berkasnya lebih banyak, saksinya lebih beragam dan intrik-intrinya lebih banyak. Orang-orang yang menjadi terdakwa pada kasus korupsi juga lebih memiliki kekuasaan sehingga lebih mudah untuk memanipulasi kasus melalui tangan-tangan kanannya dan juga pihak-pihak yang bisa diajak manipulasi.

Seorang hakim, tetap saja memiliki kewajiban yang sama dalam memutuskan. Baik itu kasus besar maupun kasus kecil. Hakim harus memutuskan dengan mempertimbangkan rasa keadilan. Namun waktu yang dibutuhkan tentunya lebih lama di kasus besar, dan gangguan sogok menyogok akan lebih besar pada kasus besar. Wajar jika lama.

Oke. Kita bisa mengatakan tutup mata saja. Jadi hakim harus adil. Benar dan itu tidak salah. Tapi kita juga harus memahami, mengambil keputusan bagi seorang hakim tentunya memiliki konsekuensi dan dia hanya memutuskan berdasarkan fakta dan data serta kesaksian yang didapat. Jika proses di awal saja sudah tak benar, maka bagaimana mau mengambil keputusan yang benar. Berat!

Kembali lagi ke sebuah keputusan. Ia adalah hal penting dalam kehidupan ini. Karena dengan keputusan maka tindakan selanjutnya dapat kita lakukan. Semisal seorang siswa memtuskan untuk belajar, maka ia akan melakukan hal belajar. Seorang hakim memutuskan terdakwa dihukum 15 tahun penjara, maka terdakwa akan dihukum 15 tahun penjara. Seorang mengatakan,"Saya akan menikah", maka ia akan menikah. Bandingkan dengan keputusan,"saya takkan menikah", maka ia takkan menikah bukan?

Baik buruknya sebuah keputusan tentunya harus dipertimbangkan dengan sebenar-benarnya sebelum keputusan dibuat. Namun ketika keputusan telah dibuat dan dilaksanakan kita harus siap menanggung semua konsekuensi yang timbul. Karena itu adalah bagian dari sebuah keputusan. Jangan seorang laki-laki yang telah menikahi seorang perempuan akhirnya melakukan kekerasan dalam rumah tangga hanya karena si perempuan ternyata mempunyai sifat yang ia tak suka. Bagaimanapun sebuah keputusan membutuhkan tanggung jawab dari si pemutus.

Seperti juga keputusan bebas dari hakim bagi terdakwa harus bisa dipertanggungjawabkan oleh hakim bahwa setelah ia bebas takkan ada kejahatan darinya. Sulit? memang. Namun itulah tantangan. Jika tak mau ada tantangan dan tak bisa memutuskan apapun yang terbaik bagi diri kita, jauh-jauh deh dari kehidupan.

Salam ya sobat!







21 komentar:

HP Yitno mengatakan...

Keputusan harus di buat dengan segera. Entah itu enak buat publik atau nggak enak. Kalaupun salah, kita dapat membenarkannya secara perlahan atau mengakui kesalahannya itu lalu memperbaikinya. Dari pada lambat mengambil keputusan yang mengakibatkan terombang-ambing. Semua berdasarkan pengalaman dan dat. Emang dalam mengambil keputusan itu berat seperti mengeluarkan biki bisul itu. Sangat sakit, terkadang penuh pro dan kontra harus memilih cara yang bagaimana.

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

oooooooooooooooo

@yankmira mengatakan...

mantabh... namun sebetulnya keputusan itu mengikuti pikiran kita. Jika kita menganggapnya sulit akan teras sulit, sebaliknya...jika kita memudahkan sesuatu dalam memutuskan, Insya Allah yaaa akan sesuai dengan segala resikonya. pertamax PU

Niar Sri Sadono Ningrum mengatakan...

keputusan untuk koment di sini ituh ksebuah keputusan yang gampang di buat, berbeda dengan keputusan untuk meninggal kan blog ini rasa nya ada yang kurang... :D *lebay mood on mbak*

Niar Sri Sadono Ningrum mengatakan...

keputusan untuk koment di sini ituh ksebuah keputusan yang gampang di buat, berbeda dengan keputusan untuk meninggal kan blog ini rasa nya ada yang kurang... :D *lebay mood on mbak*

Niar Sri Sadono Ningrum mengatakan...

keputusan untuk koment di sini ituh ksebuah keputusan yang gampang di buat, berbeda dengan keputusan untuk meninggal kan blog ini rasa nya ada yang kurang... :D *lebay mood on mbak*

febriosw mengatakan...

Pas tulisannya bertanya kenapa bisa pencuri sandal dihukum lebih berat dari koruptor, sy hendak menjawab normatif bahwa memang seperti itu rasio hukuman yang diterbitkan MA. Ternyata ulasan Mba Puteri lebih menarik dibanding apa yang sy pikirkan. Kerumitan menghakimi koruptor menjadikan koruptor dihukum lebih ringan. Menarik!

.:diah:. mengatakan...

keputusan emang butuh proses panjang dan kadang rumit ya Mbak, tapi setelah itu tidak jarang juga kita menyesal dengan keputusan yg kita ambil, heheh

weew temannya sampe milih 5 wanita gitu? karena jumlah wanita emang lebih banyak dari pria di dunia ini ya Mbak.


*anyway pertanyaan Mbak dikomenku, saya blm jadi Emak2 koq Mbak, masih single fighter gini, heheheh. mw ngenalin seseorang kah Mbak #jiaaahh apa coba ini, xixiix

Susu Segar mengatakan...

menurut mbah mario. . . ketika kita mengambil keputusan maka yang dipilih adalah keputusan yang cepat bukan keputusan yang tepat. karena keputusan yang cepat ketika terjadi kesalahan masih ada waktu untuk memperbaiki... dibanding dengan keputusan yang tepat yang memakan waktu lama hingga persoalan atau kesempatan itu menghilang ditelan waktu.

tapi yang alangkah baiknya cepat dan tepat. . . hehehehehehehee

garammanis mengatakan...

tantangan hidup kadang terletak disaat mengambil sebuah keputusan atas pilihan.. :)

outbondmalang mengatakan...

ketika orang sdh menentukan pilihan hidup'a orang itu harus berani menerima resiko yg telah diambilnya...

Bunda Kanaya mengatakan...

dialog paling atas, menyentuh mbak, ngebayangin klo kanaya yang bilang gitu... bunda jangan pergi... ihiks... *edisimelow

catatankecilkeluarga mengatakan...

tiap hari selalu ada keputusan yang harus dibuat. Bahkan dari bangun tidur hingga mau tidur.

terjaga di pagi hari, harus memutuskan untuk segera ambil wudhu dan sholat subuh atau nerusin tidur lagi karena masih tersisa kantuk.

setelah itu, menentukan pekerjaan apa yang akan dilakukan terlebih dahulu, memasak? mencuci? membersihkan rumah?

dan selanjutnya

vizon mengatakan...

Kita memang dihadapi berbagai pilihan dalam hidup. Dan kita harus memilih salah satunya. Memilih bukanlah perkara mudah, tapi tidak juga terlalu susah. Justru yang susah adalah menerima konsekwensi dari pilihan kita tersebut.

Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tawakkal. Yakni sikap pasrah kepada keputusan Allah setelah ikhtiar yang kita lakukan.

Saya pernah membuat sebuah tulisan tentang ini, di sini: http://hardivizon.com/2011/11/03/ikhtiar-tawakal-ikhlas/

Rurumahku mengatakan...

orang accounting ya mba, sampai bawa2 opini hihihi, kl bukan accounting jarang ngerti pendapat wajar dengan pengecualian :D

mimi RaDiAl mengatakan...

ga ngerti bun...yg jelas ga pernah menyesali keputusan yg udah dibuat sendiri, jika keputusan itu buruk endingnya bagi kita, ya coba diperbaiki atau setidaknya meminimalisir hasil buruknya
*beneran ga ngerti apa yg mimi tulis ini hihihi

jiah al jafara mengatakan...

kalo ditanya gitu, keputusanku gimana yah???

istikharah dulu kah??

entik mengatakan...

mengambil keputusan memang tidak mudah, karena selalu ada konsekuensi di balik pengambilan keputusan itu

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

keputusan untuk tidak bekerja lagi juga harus bisa dipertanggung jaeabkan ya mbak :)

Gaphe mengatakan...

yaa benar, tapi kadang juga mengambil sebuah keputusan memang nggak bisa buru-buru. cepat boleh asal jangan gegabah, karena segala konsekuensi dari keputusan itu kan seharusnya sudah dipikirkan :)

Asop mengatakan...

Mbaaaaak Puuuu belum update lagiiii :D