Rabu, 22 Februari 2012

Solitaire, Sendiri, Bersama, Lalu Mati !

I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
Mariah Carey di salah satu lagunya yang berjudul My All. Lagi-lagi aku hanya berusaha menghayati arti lirik tersebut dengan sepenuh hati. Bagaimana rasanya jika kita memikirkan seseorang, yang sudah jauh, disaat tak bisa tidur pada malam yang sunyi. Menderita sekali. Dan apa rasanya jika penderitaan itu berlangsung hingga memasuki usia 30. Usia 30 belum menemukan teman hidup, untuk diajak berbagi dan bicara. Aku paham, sunyi sekali.

Apakah perasaan solitaire seperti itu juga yang membuat Whitney Houston akhirnya beralih ke narkoba. Sebuah solitaire, sebuah kesunyian. Tak ada teman untuk berbagi, mungkin teman ada tapi bukan teman yang bisa diajak berbagi dengan sebenarnya. Karena jika ada teman sejati maka tak ada narkoba. Aku turut merasakannya, meski tak sependapat dengan pilihanmu ke narkoba, namun aku tahu itu tak mudah. Lagu-lagumu tetap ada dalam kenangan. I will always love you.

Teringat kembali dengan seorang teman, ketika ia sedang sakit dan di status Fb nya ia menulis yang intinya: "ga enak sakit begini ditambah ga ada yang menemani". Belum memiliki teman, pendamping hidup, sunyi, sendiri. 
Ah, solitaire, sendiri, sunyi.
Dulu ketika aku masih gadis, terus terang aku termasuk seorang yang suka dengan kesendirian. Sendiri itu waktu yang nyaman untuk merenung, membaca, mendengarkan lagu, apalagi jika hujan turun. Aku suka ke pusat perbelanjaan sendiri, walaupun terkadang pergi bareng teman. Tapi ketika sendiri itu beda, kita bebas, tak perlu saling tunggu. Terkadang jika pergi bareng teman pun aku suka memisahkan diri. Terutama jika mengunjungi pameran buku. Pilihan buku yang berbeda membuat tak nyaman jika harus saling menunggu. Lebih enak memencar saja, sendiri-sendiri, lalu kemudian janjian untuk berkumpul kembali di satu titik, meeting point. Atau ketika di rumah, kami melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Mama memasak, Papa membaca koran, adikku main game, aku sendiri (bengong), hehehe...

Tapi di saat lain aku butuh juga kebersamaan baik dengan teman maupun dengan keluarga. Cerita-cerita, saling curhat (bukan menghancurkan hati ya!), jujur-jujuran. Banyak! Banyak sekali hal yang bisa dilakukan bersama. Ya, manusia memang makhluk sosial, seenak-enaknya sendiri masih lebih enak bersama-sama. Namun bukan berarti kita tak butuh sendiri. Seenak-enaknya kebersamaan di satu titik maka manusia tetap membutuhkan sebuah kesunyian dan kesendirian.
Paradoks? Ya.
Pusing tidak dengan paradoks itu? Kenyataannya tidak. Kita bukan seekor harimau yang merupakan makhluk solitaire. Kita manusia, selain makhluk sosial juga makhluk individual. Semua berjalan dengan baik-baik saja. Sendiri, bersama, sendiri, bersama, sendiri, dan bersama, hingga akhirnya nanti manusia akan kembali kepada Sang Maha dengan sendiri. Ya, di akhir kita sendiri. Jika mengingat itu semua apakah penting semua kebersamaan kita selama di dunia? Tetap penting, namun ternyata aku menemukan suatu kunci, mengapa manusia sebagai makhluk sosial akhirnya menyukai pula kesendirian dan kesunyian, karena apa?

Manusia lahir sendiri, awalnya ketika di rahim seorang ibu manusia sendiri. Bertambah usia dan manusia pun hidup di muka bumi. Dengan segala usaha dan gairahnya dengan kehidupan. Lalu di akhir kehidupan, manusia mati dan kembali sendiri. Kita merasakan dua kali sendiri. Di saat belum lahir dan di saat mati. Wajar saja jika kita, di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, tetap membutuhkan sendiri, solitaire.

Lagi-lagi aku ingin sekali membicarakan tentang hubungan kita dengan seseorang. Tentang perasaan mencintai, menyayangi, memberikan dukungan, spirit, apa sajalah. Manusia memiliki hati, pikiran, perasaan, kebutuhan. Kebutuhan untuk diperhatikan, dicintai, disayangi. Seorang temanku yang penderita skizofrenia, dan sepanjang hari kerjaannya hanya duduk saja di sudut ruangan sambil memperhatikan sekelilingnya pun tetap membutuhkan teman. Suatu ketika ia menanyakan kepada kami, "kemana mas A, mas B". Saat itu mas A dan B sedang ke luar kota untuk tugas. Ya, sang skizofrenia ini memang seorang yang bermasalah dengan penyakitnya. Ia seringkali bertindak di luar batas wajar. Bahkan pernah melukai rekan sekerja ketika gangguan penyakitnya muncul. Namun di saat lain, ia tetaplah seorang dengan pribadi yang membutuhkan kebersamaan dengan orang lain. Meskipun sedikit interaksinya, tetap saja sekian persen dia butuh kebersamaan itu.

Pernahkah kita menemukan kawan yang terlihat sudah mandiri dan ia mengatakan, "Aku tak butuh laki-laki". Hmm...rasa-rasanya keputus-asa-an menyerangnya secara mendadak. Dan penolakan membuntutinya. Ia menolak menikah. Dia pikir toh hidupnya sudah lengkap. Pekerjaan, rumah, mobil, harta, dan uang yang banyak. Apa lagi. Teman banyak. Tapi lagi-lagi seperti di lirik lagu Mariah Carey di atas  tetap saja ia sendiri. Ia solitaire, ia kesunyian. Ia butuh seseorang, dari lubuk hati yang terdalam. Ia berjanji untuk terus mencari dan mencari hingga akhirnya seseorang yang terbaik ia temukan di ujung kehidupan. Hmm...

Namun setelah menikahpun belum tentu akan selalu merasakan kebersamaan dengan pasangan. Semua tetap ada masanya. Ada saatnya kita harus sendiri. Entah itu suami ke luar kota, atau justru aku yang pergi ke luar kota. Paling lama sih LDR ketika aku bertugas ke Ternate.Hampir 1 tahun kami berpisah dan LDR. Namun alhamdullillah sekarang sudah bersama kembali.
I am thinking of you
In my sleepless solitude tonight
Solitaire, sendiri, bersama, lalu mati!

Akhirnya  In my sleepless solitude tonight, aku berhasil merenung tentang kesendirian ini. Semoga bermanfaat ya teman.

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

19 komentar:

HP Yitno mengatakan...

Betul juga ya mbak. Manusia lahir sendirian, dan akhirnya mati pun sendirian. Namun yang namanya manusia, dalam kehidupan di dunia ini, adakalanya kita butuh sendirian untuk mencari inspirasi atau merenung, tapi kita juga butuh kebersamaan untuk berbagi cerita atau sekedar curhat semata. Entah kepada kerabat, sahabat, atau suami-istri kita.

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

sendiri dan bersama itu sama2 penting mbak tidak bisa saling terpisah

Sarah mengatakan...

semoga tetap bisa mandiri ya mbak meski sendiri ataupun bersama

Nia mengatakan...

aku juga punya teman yang umurnya 40tahun dan masih sendiri...kelihatannya dia merasa nyaman dgn keadaannya skrang ini...punya pekerjaan dan teman2 yang siap menemani...tapi mau smape kapan yach begitu? karena aku pikir perlahan tapi pasti...satu persatu teman-temannya akan meninggalkan dia krna berbagai hal...kalo aku lihat dia ngga ada usaha untuk menjemput jodohnya....hanya menunggu dan pasrah....

sukses yach mbak utk kontesnya...

@yankmira mengatakan...

Uraian yang beda dari sekian banyak solitaire dan kesendirian. banyak makan yang bisa di dapat dari kata demi katanya. sukses ya Jeng, semoga menang

@yankmira mengatakan...

Halah ko salah nulis, "Banyak Makna" maksutnya yee

Fahrie Sadah mengatakan...

Perenungannya tentang sendiri.. keren eyy^^

Bunda Kanaya mengatakan...

suatu waktu kadang kita memang butuh sendiri ya mbak...

mimi RaDiAl mengatakan...

bunpu pinter deh merangkai kalimat, biasanya sendiri mah identik dg single ya bun, tp lw udah double patble malah, bisa jd mengingnkan sendiri malah jd bumerang hihihihi
proud to you jg lah syyyyyyiiiirrrr

Ririe Khayan mengatakan...

Pada asyik main solitaire neh, serius banget neh..sukses ya.

alaika abdullah mengatakan...

Hm..... aku setuju mba, ada saatnya manusia butuh kesendirian, tapi di kala lainnya kebersamaan juga diperlukan. Karena manusia adalah makhluk individual tapi juga makhluk sosial.

Sukses untuk kontesnya yaaa...

umahnya fityanakifah mengatakan...

mantaBBB
benar...sendiri dan bersama hrs berjalan secara seimbang

.:diah:. mengatakan...

sendiri itu ada menyenangkan dan tidaknya ya Mbak.

wooow, menikah dan LDR selama setahun?? salut Mbak, Alhmadulillah ya bisa melewatinya :)

Nurmayanti Zain mengatakan...

wahhh maknanya dalam :) aku suka sekali mbak pu

Nia Angga mengatakan...

bagus mbak..

renungan yang menyentuhh.
semoga menang ya mbak

cah_kesesi_ayutea mengatakan...

Baguusss banget jabaran mbak tentang "sendiri" ini.. Aku termasuk orang yang suka sendiri, dan suka menyendiri..
Kadangkala aku merasa belum pengen dibantu orang lain ketika aku bisa melakukan sendiri..
Hal itu yang "terkadang" bisa menciptakan rasa kemandirian kita sendiri..
Tapiii.. Suatu hari aku sakit, terbaring di Rumah Sakit, saat itu aku bener2 tak mau sendiri..
Krn aku takut sendiri..
Hhmmmb.. Seperti itulah,, manusia memang makhluk sosial, tak bisa kita sendiri2, krn kita butuh satu sama lain..
Bayangkan.. Jika kita hidup sendiri, di hutan... Waahh..
Bisa2 seperti judul tulisan ini ".......lalu mati",, hehehe

sukses mbaaakk :)

salam kenal, dari cah Kesesi - Pekalongan - Jawa Tengah :)

dmilano mengatakan...

Saleum,
Kesendirian itu ada masa nya, namun yang terpenting dalam bermasyarakat jangan utamakan keegoisme kita sebab kita membutuhkan masyarakat juga.

warm mengatakan...

tulisan yg bikin merenungi hidup :)
keren , dan smoga menang lombanya ya mbak :)

kakaakin mengatakan...

Bila dipikir2, mungkin tak ada orang yang bisa atau sanggup menolak kehadiran orang lain ya...
Tulisannya keren, Pu. Favorit dah :)