Rabu, 02 November 2011

Pengalaman Pertama Ditugasi Mama Ke Pasar Tradisional

Photobucket

Pertama kali memandang wajah si Una  yang manis dengan rambut yang kiting-kiting Aku langsung suka (merayu), apalagi ketika dengan jujur dia berucap di salah satu postingannya, "Bagaimana sih bikin puisi yang bagus?", padahal kupikir puisinya bagus loh. Coba deh jalan-jalan ke rumah si Una yang pink (atau ungu ya?) itu.

Nah kali berikutnya Aku berkunjung ke rumah si Una ternyata dia sedang mengadakan give away. Give awaynya dengan cara memposting cerita tentang pengalaman pertama. Pengalaman pertama tentang apapun itu, hmm tertantang nih.

Aku berpikir mau cerita pengalaman pertama apa ya? Aku pernah posting juga tentang pertama kali di postingan ckckck pertama kali pegangan tangan. Lantas kemudian jadi mikir mau posting pengalaman pertama tentang apa ya? Mau posting pengalaman pertama melahirkan (rasanya terlalu heboh entar), posting pengalaman pertama ke Indonesia Bagian Timur (perasaan udah pernah posting ketika jadi penulis tamu di pakdhe), posting pengalaman pertama punya anak (entar Azkiya cemburu), posting apa ya kira-kira? Akhirnya Akupun memposting sesuatu yang penting banget untuk anak remaja puteri yaitu Pengalaman Pertama  Ditugasi Mama Ke Pasar Tradisional. Mau tahu pengalamanku? Ah, sebenarnya sih biasa aja. Tapi silahkan disimak ya gals.

Mamaku adalah seorang yang oke banget menurutku. Mama benar-benar mengajarkan Aku untuk menjadi seorang perempuan sejati sekaligus mampu eksis di pendidikan. Ya, tentu saja ini bukan jamannya lagi seperti RA. Kartini dimana pada jaman itu perempuan dipingit saja di rumah tanpa harus mengenyam pendidikan yang tinggi. Mama berharap padaku besar sekali karena Aku adalah anak pertama dan perempuan pula. Jadi ketika mama memotivasi Aku untuk meraih prestasi di dunia pendidikan tentu saja diharapkan Aku juga bisa tetap bisa melakukan pekerjaan kaum wanita seperti memasak, bebenah, belanja ke pasar tradisional, dll.


Ini dia Mamaku sama azkiya, waktu kita ke Ambassador (makan singkong Chiquita,suka gak?).  Gaya kan mama ku, gaya pake bajunya aja sama ama Teh Orin :) plaaak...



Aku kagum dengan Mama. Sebagai wanita dia itu kreatif, mama bisa merias penganten, bisa memasak, bisa membuat hantaran penganten, bisa membuat kue (mama menerima pesanan kue setiap hari besar). Sedangkan Aku? Hmm, dengan terus terang Aku mengatakan pada masa Aku SMP sampai dengan awal-awal menikah aku adalah perempuan yang tak menjiwai aktivitas wanita. Bukan berarti Aku tak mau melakukan pekerjaan wanita tetapi lebih kepada (kalo kata Mama) tidak menjiwai. Pikiranku lebih fokus ke pelajaran, teman, organisasi, dan lain sebagainya. Aku bahkan sempat protes ke Mama ketika SMP, "Mengapa wanita harus bisa segala hal, tapi adik-adik yang laki-laki tidak harus bisa mengerjakan pekerjaan wanita".

Sejak SMP mama mulai membinaku untuk menjadi wanita sejati.  Aku pun sudah sering diajak mama ke pasar tradisional Rawamangun. Kala itu aku hanya membantu mama membawa kantong belanjaan, mengetahui tempat-tempat penjual yang biasa mama datangi untuk belanja, mengetahui cara-cara berbelanja di pasar tradisional, dan memberanikan diri menerobos pasar tradisional yang notabene beraroma khas dan banyak sekali orang-orang yang tak kita kenal di sana. Berbelanja di pasar tradisional tentu saja berbeda dengan belanja di pasar swalayan. Kalau di pasar tradisional kita harus tahan dengan kondisi becek, aroma tak sedap, orang-orang di pasar dengan beragam ulah, kadang suka ada copet (jarang sih!), sedangkan di pasar swalayan tentu saja bersih, wangi, tinggal ambil saja barang yang kita ingin beli, dan nggak ada orang iseng plus copet.

Ini loh pasar pagi Rawamangun, tempatnya depan terminal Rawamangun.

Ketika masih menemani mama belanja di pasar Aku mencoba memahami bagaimana berkomunikasi dengan penjual dimana ada yang sudah mbok-mbok (terkadang suka tak mendengar apa saja yang akan kita beli), terkadang jika yang membeli anak kecil akan dicuekin dan lebih memilih pembeli ibu-ibu mentereng, atau bahkan timbangan yang dikurangi karena pembeli ga memperhatikan dengan baik. Semua harus dipelajari tentunya. Ketika itu Mama tak terlalu berucap apapun, Aku hanya mengikuti saja setiap langkahnya. Aku memahami, oh ketika belanja sayur mama di penjual yang ini, daging di penjual yang itu, ayam di pojokan ayam, buah di penjual yang di depan, dll.

Belanja bareng mama pun berhenti ketika aku lulus SMP, dan di SMU aku pun berganti menjadi belanja sendiri di pasar tradisional. Kala itu mama hanya memberikan secarik kertas berisi daftar belanjaan dengan sejumlah uang. Catatan belanjaannya ketika itu lengkap banget dengan harga-harga barangnya. Jadi aku kan bisa segera bilang ke penjual untuk beli anu sekian rupiah. Lebih mudah dan memudahkan.



Aku pun segera berangkat ke pasar dengan jalan kaki. Ya, Aku suka ke pasar jalan kaki karena aku bisa melihat-lihat jalanan dan suasana sekitarnya yang mengasyikkan untuk kuperhatikan diam-diam. Ada warung-warung makan, ada rumah-rumah penduduk, apotik, hingga kendaraan yang berlalu-lalang. Hingga sampailah Aku di pasar. Kulangkahkan kaki menuju pasar di lantai 2. Suara-suara pedagang mulai terdengar "Sayur dek, udah belanja di sini aja". Aku sebal dengan penjual-penjual yang kadang suka genit itu. Aku mah tetap saja melangkah menuju lokasi penjual langganan Mama. Ga ngaruh deh ama yang lain.

Paling takut jika harus ke loss ikan, disana licin sekali deh lantainya. Harus hati-hati supaya tidak terpeleset. Aku ditanya ama penjual langganan mama," wah ga sama ibu ya neng" dan segera kujawab,"iya bu, disuruh mama belanja sendiri". Segera kubeli beberapa potong ikan. Selesai dari loss ikan biasanya ke loss ayam. Kalo di loss ayam penjualnya cakep. Jadi mamaku suka bilang, "belinya ama penjual yang cakep ya put". Ibu-ibu penjual ayam itu memang cakep. Kemudian ke toko kelontong yang menjual bahan-bahan pembuat kue. Biasanya langganan mama di toko Uni. Dan biasanya di toko uni ini karena yang dibeli adalah bahan-bahan pembuat kue yang banyak, Aku tinggal kasih aja ke penjualnya catatan dari mama. Hehehe, malas soalnya kalo kebanyakan disebutin satu-satu, jadi ya kukasih aja catatannya.


Tiba di penjual sayur langganan mama, Ayuk nya ini baik banget deh orangnya. Suka negor ramah gitu deh. "Eh, eneng beli apa neng?", dan seketika kusebut beli sayur asem 3000, sayur lodeh 3000, beserta sayuran lainnya juga bawang merah dan bawang putih, dkk. Si ayuk dengan sigap, dibantu oleh seorang assisten. Paling suka lihat dia ngambilin sayuran untuk dibungkus jadi sayur lodeh dan sayur asem, sigap sekali. Oke deh setelah kubayar, abis ini kemana lagi yaa?

Oya, beli buah. Mama selalu menyediakan buah pepaya di rumah biasanya di juz bareng dengan jeruk peres. Disinilah kelihaian menawar diuji. Kadang si penjual ngasih harga 8000, padahal harusnya 6000 sudah bisa dibeli. Ngotot deh disini. Kadang suka sebel kalo si abang buah ga mau nurunin harga ya kutinggal saja, dan nantinya justru si abang buah yang memanggilku lagi untuk mengiyakan tawaranku.

Ya, kurang lebih begitulah. Kala pertama ke pasar tradisional. Lebih banyak unsur deg-degan menghadapi suasana pasar sebenarnya. Maklum anak gadis, banyak orang usil di pasar. Tapi yang penting kita harus bisa jaga diri dan hati-hati membawa uang. Kalau bisa pakai tas selempang dan bawa uang secukupnya. Tapi yang jelas pengalaman ke pasar tradisional itu sangat berarti bagiku, terutama ketika sekarang sudah berumahtangga kan harus ke pasar. Sebab belanja di pasar tradisional lebih murah dibanding belanja di pasar swalayan dan tukang sayur yang lewat rumah.

Tips lagi dariku: "Kalau abis dari pasar buruan mandi dan baju yang untuk ke pasar dicuci karena jika mandi sebelum ke pasar bisa dipastikan akan bau lagi dan baju kita pun akan berbau tak sedap khas pasar tradisional.

Oke deh seperti itu pengalaman pertamaku ditugasi mama ke pasar tradisional, bagaimana dengan kamu?

Baca juga: daftar isi























34 komentar:

socafahreza's blog mengatakan...

wah2 menarik banget postingannya :)..

Sitti Rasuna Wibawa mengatakan...

Gyahaha, pertama kali ke pasar pas SMP? :P :P

Asikkk terimakasih yaaa mbak Pu udah ikutaaan, segera kucatat :)

Nia Angga mengatakan...

idihh cantik-cantik jorok.. masak ke pasar ga mandi.. hiyyy
jangan2 ke kantor juga ga mandi?? *kabooorrrr
moga menang kontesnya ya mbak
to una: awas kalo senior ga dimenangin, kualat lho qeqeqeqeq

Rohis Facebook mengatakan...

tidak semua pekerjaan wanita tdk bisa dikerjakan olh laki2.., klo soal mengandung i2 jelas gk bisa, tp urusan memasak dll ada juga ko' laki2 yg bisa...

ria haya mengatakan...

saya pertama kali belanja di pasar tradisional sekitar kelas 3 SD. saya anak pertama juga. karena ibu saya seorang guru SD, dimana jam 7 harus sudah di sekolah juga, maka sebelum berangkat sekolah sekitar jam 5.30 pagi saya harus ke pasar membeli belanjaan menggantikan ibu, daftar belanjaan saya catat di kertas. saya memakai seragam sekolah biar didahulukan belanjanya hihi. semua adik saya jg wajib ke pasar, bergantian dg saya biar adil :)

r10 mengatakan...

belanjaannya banyak banget yah, sekarang pertanyaanku adalah, dengan barang sebanyak itu, pulang ke rumah naik apa? :D

Tarry KittyHolic mengatakan...

Kpn ya blnj ama emak? Kayaknya bs di hitung dgn 5 jari xixi

Tp waktu krj di depot saya sering nganterin belanja di pasar besar stadion madiun *pasar original kebakaran*. Seru juga sich hehe

Miss 'U mengatakan...

karena sodara ku laki2 semua, dulu juga sering protes kayak gini:

Aku bahkan sempat protes ke Mama ketika SMP, "Mengapa wanita harus bisa segala hal, tapi adik-adik yang laki-laki tidak harus bisa mengerjakan pekerjaan wanita"

kayaknya sy jg ga menjiwai deh mbak :D
wah mbak pu jadi saingan jg >:D

Yunda Hamasah mengatakan...

Secara ke Pasar tradisionalnya di Jakarta ya Pu... kalau aku pertama kepasar tradisionalnya di kampung, namanya kalangan, hehe...

Iya Mama masih muda dan gaya ya Pu, salam ya...

catatan kecilku mengatakan...

Selamat ya karena udah ketemu idenya hehehe. Soalnya sampai sekarang aku masih cari ide "pengalaman pertama" apa yg akan aku ikutsertakan dalam giveway itu :) Good luck ya..

the others mengatakan...

Aku kurang enjoy di pasar tradisional tuh karena aku gak pandai nawar.. hiks..
Suamiku yg sering aku paksa utk tawar menawar dg penjualnya hahaha

Nchie mengatakan...

test..komen masuk ga ya

Nchie mengatakan...

Jadi mengingatkan aku sama mamaku,dulu juga begitu,sama persis,suka ngajakin belanja ke pasar tradisional hihi..

Lagian malu banget,orang2 pada ngeliatin *geer*

Hmm..mamanya cantik banget,keren,stylish,Orin banget..haha.

*lebih cantik dan keren Mamanya daripada Pu* Kabuurr..!!!

umahnya fityanakifah mengatakan...

jadi inget dulu ke pasar pertamakali waktu SD, disuruh umi (ibuku), saking banyaknya belanjaan maka kupanggul lah tuh kresek penuh belanjaan :),jadi kayak tukang panggul

menarik ceritanya, sukses ya kontesnya

salam

entik mengatakan...

dulu waktu kecil, saya juga sering dapat tugas mbawain kantong belanja ibu pas ke pasar.
Diajarin belanja sendiri juga dibawain catetan kaya mba pu..

sukses buat kontesnya ya...

Arif Zunaidi Riu_aj mengatakan...

Aku juga ikutan. Kayaknya seru-sru ya pengalaman pertama itu. hehehe


http://riuisme.blogspot.com/2011/10/demi-kbs-bukan-demi-aku.html

Yan Muhtadi Arba mengatakan...

"Ibu-ibu penjual ayam itu memang cakep" kok gambar dibawahnya laki2 semua.. jadi penasaran sama ibu2 penjual ayam itu :D J

aku juga ikut lho mbak kontesnya Mbak Una itu.

puteriamirillis mengatakan...

@socafahreza's blog:makasih ya

puteriamirillis mengatakan...

@Sitti Rasuna Wibawa:gyahaha...iya, kamu dari TK udah belanja sendiri di pasar tradisional ya un????hihihi....

puteriamirillis mengatakan...

@Nia Angga:kalo cantik ga harus wangi kaaan???hahha, plak pluk jedung%$%^*&^

puteriamirillis mengatakan...

@Rohis Facebook:ok deh, iya betul harus bisa jg

puteriamirillis mengatakan...

@ria haya:wah hebat, saluttt

puteriamirillis mengatakan...

@r10:naik bajay

puteriamirillis mengatakan...

@Miss 'U:sama ya mbak

puteriamirillis mengatakan...

@Yunda Hamasah:iya mbak, insya Allah nanti disalamin

puteriamirillis mengatakan...

@catatan kecilku:makasih ya, ayo ikut juga

puteriamirillis mengatakan...

@the others:tp lbh murah mbak^^

puteriamirillis mengatakan...

@Nchie:hihihi....emaang :P

puteriamirillis mengatakan...

@umahnya fityanakifah:iya pengalaman ke pasar pertama selalu menyenangkan ya umi

puteriamirillis mengatakan...

@entik:sama ya mbak

puteriamirillis mengatakan...

@Arif Zunaidi Riu_aj:iya seru bgt

puteriamirillis mengatakan...

@Yan Muhtadi Arba:ibunya ga kefoto mas

Imelda mengatakan...

wah aku sih ke pasar sendiri waktu SD, masak untuk satu keluarga kelas 5 SD, belajar bikin kue, puding, setiap pesta malah aku yang atur menunya. Paling gila waktu ujian SD kelas 6 aku masih bikin pie jeruk padahal besoknya UJIAN! gila bener hahaha.
Aku ke pasar sering pusing krn darah rendah, jadi kudu pelan-pelan jalannya, dan benar di los ikan itu liciiiiin banget :D

Mama kamu masih muda sekali ya....(jgn jgn seumur aku ya? hahaha)

EM

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

kalau aku sering mbak ikut ke pasar waktu kecil,kadang-kadang kalau hari minggu sekeluarga termasuk sama bapakku