Senin, 06 Februari 2012

No Heart 8

Bersambung dari no heart 7

Pukul 1 siang sinta menggerakkan kendaraannya menuju stasiun. Menjemput ibunya Bimo.
Sepanjang pagi sampai siang ia resah gelisah.

"Bimo tak bertanggungjawab!", serunya pada diri sendiri.

"Aduuh jalanan macet sekali. Ada apa ya?", Sinta mengambil inisiatif memutar balik dan mencoba melalui jalan lain.  
Jam 2 nanti ia sudah harus berada di stasiun. Memparkir mobilnya, menunggu kedatangan kereta untuk kemudian menerima telepon ibunya Bimo, yang menandakan ia sudah sampai dan menunggu di suatu sudut stasiun Senen.
"Ah, untunglah jalanan yang alternatif ini lancar. Jika tidak, wah bisa-bisa Bimo marah besar padaku karena tak menyiapkan waktu yang lapang untuk menjemput ibunya. Walau aku tak bisa seratus persen disalahkan, wong aku hanya membantu. Ini bukan kewajibanku!", Sinta berujar pada dirinya sendiri. Galau.

"Aku heran, bisa-bisanya Bimo mempercayakan ibunya pada diriku. Walaupun kami bersahabat. Tapi fungsiku bukan sebagai pengganti dirinya untuk melayani ibu. Memang aku istrinya?, uuups...", tersadar Sinta memikirkan hal itu.
Stasiun Senen siang itu padat sekali oleh penumpang maupun mereka yang mengantarkan. Sinta mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir stasiun. Tiba-tiba...treeetttt..treeetttt..ponselnya berbunyi.
"Deg..nomor ibunya Bimo", mendadak Sinta berkeringat.

"Ya, halo", sapa Sinta.

"Nak Sinta? Ibu baru saja sampai nak. Tadi pagi Bimo mengatakan nak Sinta yang menjemput ibu", jawab ibu.

"Benar bu. Ibu ada dimana?", tanya Sinta, keluar dari mobil dan sedikit terburu-buru masuk ke dalam stasiun. Kepalanya celingak celinguk.

"Ibu memakai baju ungu nak, di kursi depan loket karcis", jawab ibu.

"Baik bu, ibu tunggu di sana saja ya. Saya akan mencari ibu", jawab Sinta.
Sinta terbirit-birit, tapi seketika melambatkan jalan untuk mengatur nafasnya. Tidak lucu jika nanti ia terangah-engah berhadapan dengan ibunya Bimo. Seperti dikejar setan saja. Ia harus tampil elegan namun manis.
"Ups, sempat-sempatnya aku narsis", pikir Sinta.
"Nah sepertinya ibu-ibu yang sedang duduk dengan baju ungu itu ibunya Bimo", ujar Sinta.
Sinta mendekatinya. Ia mempersiapkan senyuman termanis.
"Selamat siang bu, ibu ibunya Bimo? Saya Sinta", Sinta memulai percakapan.
Ibu-ibu itu bingung, mengerutkan dahinya, tak bisa berkata apapun.
"Maaf neng, nama anak saya Budi", jawab ibu-ibu itu.
"Ups, salah! Maaf bu, Saya sedang mencari seseorang", Sinta salah tingkah, wajahnya memerah.
Ibu-ibu itu hanya tersenyum. Kemudian kembali asyik dengan hapenya. Sementara seorang ibu berbaju ungu yang lain keluar dari toilet.
"Sepertinya ini ibunya Bimo, semoga tak salah lagi!", pikir Sinta.
Ibu itu melangkah pelan membawa kopernya. Terlihat lelah, setelah menempuh perjalanan panjang. Sinta menarik nafasnya, melangkah menuju ibu itu.
Setelah ibu itu duduk, Sinta bertanya, "Ibu Susi? Ibunya Bimo?".
"Ya, kamu nak Sinta?", jawab si ibu.

"Benar bu, alhamdullillah akhirnya Saya bertemu ibu. Senang sekali", ujar Sinta sambil mencium tangan Ibu Susi.

"Waah nak Sinta, senang sekali ibu ada yang menjemput. Si Bimo malahan pergi ke Jambi. Benar-benar anak itu sibuk sekali. Maaf ya nak, jadi merepotkan. Maaf juga tadi ibu mendadak ingin buang air kecil, untungnya ada toilet di dekat sini", kata Ibu Susi.

"Tidak apa bu", jawab Sinta.
Ibu terlihat lelah. Ia duduk kembali sambil menyelonjorkan kakinya.
"Ibu lelah sekali nak, ibu selonjor kaki sebentar ya", kata ibu.
Sinta membeli makanan di cafetaria sementara ibu istirahat.
"Ibu ini ada kue lapis, lumayan untuk ganjal perut sementara", Sinta menawarkan.
"Terimakasih ya nak", ibu menerima dengan senang hati.
Ibu makan kue lapis dengan lahap. Setelah itu mereka pun beranjak ke luar stasiun menuju tempat parkir mobil dimana Sinta memparkirkan kendaraannya. Sinta berjalan sambil menuntun ibu susi dan membawakan kopernya. Sinta membuka pintu mobil dan mempersilahkan ibu Susi masuk ke mobil.

Sinta pun melajukan kendaraannya menuju rumah makan Sunda. Ibu makan dengan lahap. Setelah itu mereka pulang. Sinta menyetir dengan tenang. Namun tiba-tiba mobil mengerem mendadak. Seorang Bapak Tua dengan dagangannya terjatuh ke jalan. Dagangannya terhambur semuanya. Sebenarnya tak murni kesalahan Sinta karena ada kucing melewati depan mobil.

Sinta berhambur keluar mobil. Ia menolong bapak pedagang dengan sigap. Mengangkat gerobaknya dan mengucapkan permintaan maaf ke bapak tersebut. Sambil memberikan beberapa ratus ribu untuk mengganti kerusakan gerobak dan barang dagangan pedagang.

Urusan beres. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke kamar. Ibu ke kamarnya sedangkan Sinta ke kamar tamu.

Setelah ibu dan Sinta mandi sore, mereka menonton TV bersama.
 "Nak Sinta, sebenarnya nak Sinta itu siapanya Bimo? Apakah nak Sinta kekasih Bimo?", tanya ibu.

Sinta gelagapan," Mmh, Saya teman Bimo Bu. Hanya teman biasa. Kebetulan Saya yang bisa diminta tolong oleh Bimo Bu".
 Ibu terdiam. Sebenarnya dia tak mengharapkan jawaban itu.

Bersambung ke mbak ketty ya teman...




 



























9 komentar:

ketty husnia mengatakan...

ok mbak..akan saya lanjutkan..makasih ya mba sinta eh mbak Pu :D

WaroengBlogger mengatakan...

ibu berharap nak sinta kekasihnya Bimo? hehe

dmilano mengatakan...

Saleum,
ternyata bersambung laGI.....

'Ne mengatakan...

mau kasih salam dulu mbak hehe belum baca yang sebelum2nya :-)

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

jawab calon istrinya aja :)

amel mengatakan...

nah lho,, nah lho.. temen apa temen nih :D
akhirnya bisa nyusul, untung belum ketinggalan jauh

Niar Ci Luk Baa mengatakan...

biyuhh...berlanjut.. kyak sinetron yaa :)

Fahrie Sadah mengatakan...

Bentar, baca dari awal dulu ah ^^

Riezch mengatakan...

lanjutannya kpn???
masih lama kah??