Selasa, 23 April 2013

Street Food, Kuliner Setiap Lapisan Masyarakat


Dalam rangka World Street Food Congress 2013 majalah Femina menyelenggarakan Femina FoodLovers Blog Competition 2013 dimana blogger diminta menulis esai dengan tema: Pandangan Anda tentang street food Indonesia (bukan review tentang satu tempat makan street food) di blog. Awalnya saya search di google apa itu street food dan ketika tahu bahwa street food itu makanan yang dijual kaki lima, saya tertarik untuk turut serta berpartisipasi. Berikut tulisan saya.
 
Street food telah melegenda dalam dunia kuliner di Indonesia . Saya bisa mengatakan seperti itu karena memang street food adalah kuliner yang dapat dibeli oleh seluruh lapisan masyarakat.  Harga street food memang murah dan jenis makanan yang dijual juga beragam dan cocok dengan lidah masyarakat Indonesia.  


Apa Itu Street Food?

Menurut pendapat saya, street food adalah makanan yang dijual di jalan atau yang lebih dikenal sebagai kaki lima. Istilah kaki lima muncul dengan anggapan makanan kaki lima dijual dengan menggunakan sarana gerobak dan tenda jualan. Kaki yang empat adalah kaki dari gerobak, sedangkan kaki yang satu diartikan sebagai kaki si penjual. Lucu sekali istilah tersebut tapi istilah kaki lima telah melegenda. Seringkali kaki lima diartikan sebagai sesuatu yang harganya murah. Ada istilah yang terkenal bahkan menjadi jargon restoran yaitu rasa bintang lima, harga kaki lima. Semata untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa harga makanan di restoran itu murah.

Sate Udang goreng, salah satu contoh street food di sepanjang kawasan pantai di Padang, Sumatera Barat
Apapun namanya street food tetap luar biasa. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kawasan untuk penjualan street food. Seperti kawasan Balai Pustaka Timur di Rawamangun, kawasan swearing di Ternate, kawasan Pasar Atas di Bukittinggi, kawasan Malioboro di Yogyakarta, dan sebagainya. Bahkan street food dijual hingga wilayah gang-gang.  Street food yang disajikan sangat beragam mulai street food tradisional hingga street food modern. Saya masih ingat ketika saya masih SD, saya suka sekali membeli street food yang dijual di depan sekolah. Street food yang dijual antara lain kue cubit, somay kecil, gulali, batagor, pempek, bakso, es kelapa muda, rambut nenek, dan sebagainya. Saya juga suka street food di dekat rumah saya yaitu di jalan Balai Pustaka Timur yang terkenal sebagai area street food di Rawamangun yang terkenal hingga saat ini. Di Balai Pustaka Timur dijual Sate Padang, Sate Ayam Madura, Bakso Gepeng, aneka gorengan, es buah segar, aneka jus, sop buah, batagor, dimsum, tahu jeletot, kue tradisional khas Medan, martabak, dan sebagainya. 

Makan Murah, Street Food Saja

Bagi saya pribadi street food adalah pilihan yang tepat ketika kita ingin menikmati makanan enak tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Bisa dikatakan street food harganya relatif murah terutama jika dibandingkan dengan harga makanan yang dijual di café, restoran, dan hotel. Saya dan suami seringkali sarapan bersama dengan menikmati street food misalnya nasi kuning, ketoprak, batagor, bubur ayam, pempek mini, dan sebagainya. Kami memang hobi mencoba street food, disamping untuk mengobati rasa kangen terhadap makanan semasa kecil tentu saja karena harganya murah. Bayangkan satu porsi batagor dapat kita nikmati dengan harga Rp3000, bubur ayam Rp5000, nasi kuning Rp5000, ketoprak Rp7000, dan sebagainya. Makanan bisa dinikmati sepuasnya asalkan perut masih bisa menampung.  

Apresiasi saya untuk penyelenggaraan World Street Food Congress 2013 dan majalah Femina yang telah menyelenggarakan Femina FoodLovers Blog Competition 2013.

Street Food Sebagai Tulang Punggung Kuliner Mikro

Menurut saya street food harus tetap dilestarikan  jangan sampai tergerus karena menjamurnya restoran dan café. Street food adalah salah satu tulang punggung industri kuliner mikro di Indonesia. Dengan konsep street food, pedagang tak perlu mengumpulkan modal awal yang sangat besar untuk memulai usaha. Cukup bermodalkan gerobak, tenda (jika ingin menggunakan tenda), peralatan memasak, peralatan makan, dan tentu saja bahan masakan yang akan dijual. Hal ini tentu sangat baik bagi pedagang makanan. Meskipun bermodal kecil tetapi peluang laris dan sukses sangat besar.  Tentu dengan persyaratan tersendiri diantaranya makanan yang dijual enak dan sesuai selera masyarakat setempat, bersih dan rapi dalam hal penyajian dalam arti peralatan harus bersih dan cara menyajikan juga rapi.  

Soal selera masyarakat ada cerita tersendiri yaitu ketika saya setahun tinggal di Ternate, Maluku Utara. Saat itu saya mengidam untuk makan bakso. Saya mencari-cari tempat menjual bakso. Akhirnya ketemu saya dengan penjual bakso yang ternyata berasal dari Jawa Tengah tepatnya kota Solo. Saya pun memesan bakso. Dalam pikiran saya bakso Solo itu rasanya seperti bakso Solo yang dijual di Jakarta. Ternyata tidak, entah ditambah bumbu atau justru dikurangi tapi yang jelas rasanya beda. Begitupun dengan saosnya. Orang Ternate itu suka sekali dengan saus tomat. Jadi akan sulit sekali menemukan bakso yang menyediakan saus sambal. Hanya soal selera, tapi itu penting. Di Sumatera Barat lain lagi, ada penjual bakso yang menambahkan santan pada kuah bakso. Untuk memenuhi selera urang awak yang memang menyukai masakan bersantan. 

Naik Haji Karena Jualan Makanan Dengan Konsep Street Food

Sinetron Tukang Bubur Naik Haji telah menjadi inspirasi tersendiri bagi masyarakat Indonesia bahwa street food itu juga menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Dengan bermodalkan mencari nafkah dengan jualan makanan ala street food, pedagang sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi dan bisa naik haji. Sinetron Tukang Bubur Naik Haji adalah potret nyata. Saya punya kisah nyata. Ada seorang penjual sate Padang di kawasan Balai Pustaka Timur, Rawamangun yaitu Ajo Manih yang memulai usaha berdagang sate hanya dari satu gerobak. Lama kelamaan dia bisa mendirikan warung tenda yang akhirnya menjadi pilihan berjualan hingga saat ini. Dari berjualana sate dia sudah bisa mendirikan rumah bertingkat di kawasan Rawamangun, sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya, dan tentu saja sudah naik haji. Luar biasa.

Street Food Asongan

Street Food Asongan banyak terdapat di beberapa wilayah Indonesia. Bubur ayam keliling perumahan misalnya setiap pagi akan mudah ditemui. Mie Ayam keliling juga demikian. Asongan adalah istilah untuk jualan keliling tersebut. Street food ada di banyak negara tetapi yang dijual asongan sepertinya hanya ada di Indonesia. Menjual secara asongan tentu lebih cepat terjual karena menjual makanan dengan konsep menjemput bola.

Kebersihan Street Food

Sebagai salah satu kuliner yang turut mendorong pertumbuhan wisata kuliner di Indonesia sudah semestinya street food diperhatikan oleh Kementerian Pariwisata. Faktor kebersihan terutama yang harus diperhatikan. Sudah umum kita lihat pada street food di Indonesia, air cuci piring hanya 1-2 ember dan itu tidak sering diganti. Jadi bisa dibayangkan, minyak dan sisa makanan di piring hanya dibersihkan sekedarnya saja.  Begitupun lokasi penjualan yang penuh dengan polusi sehingga makanan yang dijual sudah tercemar polusi. Entah mengapa meskipun demikian street food masih laris. Namun demikian faktor kebersihan ini harus diantisipasi. Misalnya dengan diberi pelatihan kebersihan bagi penjual street food oleh kementerian pariwisata.

Lestarikan Street Food

Saya berkomitmen untuk tetap setia kepada street food untuk itu saya berharap kelestarian jualan makanan dengan konsep street food tetap tinggi hingga nanti. Saya berharap anak cucu saya kelak juga mencintai street food. Jika bisa diresum street food itu kuliner setiap lapisan masyarakat dengan alasan:
1.       Pembeli dapat menikmati makanan enak dengan harga murah;
2.       Penjual dapat memulai usaha dengan modal kecil;
3.       Untung yang diraup besar karena ada kecocokan keinginan antara pembeli yang menginginkan makanan murah tapi enak dengan penjual yang membutuhkan usaha dengan modal kecil tapi untung besar, sehingga bertemulah penjual dan pembeli karena konsep jualan street food.

Sekian artikel ini saya sajikan, semoga bermanfaat dalam rangka menyambut World Street Food Congress 2013. Ide majalah Femina menyelenggarakan Femina FoodLovers Blog Competition 2013 adalah sebuah awalan tepat untuk melestarikan street food di Indonesia.

Wassalam.


Baca juga daftar isi

22 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Tukang Bubur Naik Haji semoga menginspirasi yang lainnya utk bisa juga suksses melalui street food ya mbak :)

Hanna HM Zwan mengatakan...

kalo saya bener2 penggemar kaki 5 mbk,enak...harga passsss

wi3nd mengatakan...

stuja murah enak lagi hehe

tapi sekarang udah pada naik harganya ketoprak sudah 8000 bubur ayam 8000 klo somay atao batagor masih 6000 tapi ga masalah :)

** pecinta kuliner heheh

duniaely mengatakan...

sdh lama mbak aku nggak menikmati street food nggak ada sih di sini soalnya

Good luck ya buat kontesnya :)

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

street food siapa takut :)

Pakde Cholik mengatakan...

Di negara manapun ada penjual makanan yang mangkal di jalan atau trotoar. Namun hanya di Indonesia yang paling penjual makanan asongan lho.
Semoga berjaya dalam kontes
Salam hangat dari Surabaya

Mekanik Komputer mengatakan...

kapan ya ada di banyuwangi

Review Jujur mengatakan...

disini banyak street food gorengan gan

Tutorial Jitu mengatakan...

ane masih belajar gelar daganga ala street food gan

gosip game mengatakan...

kuliner mikro memang lagi berkembang pesat ya

puteriamirillis mengatakan...

@catatan kecilkuhehe..suka juga ya mba..

puteriamirillis mengatakan...

@Hanna HM Zwansama mbak

puteriamirillis mengatakan...

@wi3ndpecinta kuliner juga...sama wiend

puteriamirillis mengatakan...

@duniaelydirimu dmn el?

puteriamirillis mengatakan...

@Lidya - Mama Cal-Vinyup betul mba lid...

puteriamirillis mengatakan...

@Mekanik Komputermasa sih ga ada

puteriamirillis mengatakan...

@Review Jujursama disini jg banyak gan...

puteriamirillis mengatakan...

@Tutorial Jituwah bagus tuh gan

puteriamirillis mengatakan...

@gosip gameiya, pesat banget

puteriamirillis mengatakan...

@Pakde Cholikterimakasih pakdhe

Ridha Alsadi mengatakan...

pa kabar mbak puteri :)
lama saya ga mampir, semog belum lupa.
oh ya, saya juga sangat suka street food, tapi suami suka ngingatin untuk tak terlalu sering. kecuali lagi kepepet :)
semoga sukses mbak artikelnya

puteriamirillis mengatakan...

@Ridha Alsadimana mungkin lupa dengan si bangau putih. apa kabar ?
terimakasih ya...dukungannya.