Sabtu, 17 Agustus 2013

Asa Menggapai Impian


Menikmati Taman Monas, sendirian.
Kicau burung  menemani dengan sayup-sayupnya yang merdu.
Di sini memang tak ada siapa-siapa tapi hati ini merasakan ramai.

Pagi itu adalah pagi indah bagi Ami. Matahari bersinar cerah. Ami mengambil cuti dua hari, ia ingin menikmati Taman Monas  sendiri saja pada hari pertama.  Pada hari kedua ia akan rekreasi ke Pantai Ancol dengan anak-anak. Saat ini anak-anak sedang sekolah dan pulang dijemput oleh Jida, ibu Ami. Sedangkan suaminya bekerja seperti hari-hari biasa.

Ami berpikir ia membutuhkan saat-saat sendiri seperti ini. Kesibukannya sebagai ibu bekerja telah menguras waktunya. Pergi bekerja di pagi hari dan pulang bekerja pada sore harinya, begitu setiap hari. Ami adalah seorang wanita yang tak mudah menyerah sebenarnya namun ada saatnya ia membutuhkan waktu istirahat, waktu untuk dirinya sendiri, satu hari saja. Ia ingin sekedar mengistirahatkan sejenak diri dan pikirannya dari aktivitas sehari-hari, pun aktivitas dengan anak-anaknya. Bukan ia tak sayang dengan anak-anak tetapi ini penting untuk memompa kembali semangat dalam dirinya.

Ami tenggelam dalam keasyikannya, ia sedang menulis, entah apa yang ditulisnya. Ia merasakan sebuah kenyamanan dengan menulis, nyaman di hati dan nyaman di pikirannya. Selain menulis ia pun sedang membaca buku berbahasa Inggris.  Ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian Toefl. Selain Toefl Ami juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian TPA.  Buku TPA dan buku Toefl telah menemani hari-harinya. Ia tak mau gagal lagi. Ya, kegagalan telah beberapa kali ia terima. Setiap tes TPA dan Toefl ia memang tak pernah serius mempersiapkan diri. Persiapan yang dilakukan hanya sekedar meminjam buku Toefl dan TPA milik temannya lalu mempelajarinya dalam waktu satu minggu. Sebagai seorang yang terbiasa teratur tentu saja ujian tanpa persiapan yang serius sebenarnya tabu bagi Ami. Rasa tidak percaya diri lebih cepat hinggap dalam dirinya. Sehingga ketika mengerjakan soal ujian tidak maksimal mencurahkan segala kemampuannya. Ia ingin meraih skor Toefl dan TPA sesuai persyaratan beasiswa S2.

“Ibu mau pesan mie dalam cup?”, tiba-tiba seorang anak usia SMA mengampiri.
“Kebetulan dik, saya lapar. Saya mau satu cup saja”
“Ibu sendirian di sini?, sepi Monas pada hari kerja”
“Iya dik, saya sendiri. Ingin belajar di sini”
“Wah, ibu hebat,  masih mau belajar”
“Ya tentu dik, kamu sendiri tidak sekolah dik?”
“Saya sekolah siang bu, ini mie yang ibu pesan”, kata si adik sambil menyerahkan mie dalam cup yang sudah disiram air panas.
“Saya bekerja jualan mie instan hanya pada pagi hari”, lanjut si adik.
“Mengapa kamu jualan mie di Monas pada hari kerja?”
“Sebenarnya saya mau ke stasiun gambir bu, tapi saya harus mengantarkan peyek pesanan ibu Prita, penjaga karcis untuk naik ke puncak Monas bu”
“Oh, begitu, hebat kamu dik”
“Iya bu, saya harus bekerja demi cita-cita saya. Saya harus tamat SMA. Dengan berjualan maka saya menambah penghasilan keluarga. Untuk biaya sekolah”.
“Iya dik, kita memang harus berusaha keras agar mampu menggapai cita-cita. Tak ada hasil maksimal yang dicapai jika tak berusaha keras”, kata Ami sambil menyuapkan mie ke mulutnya.
“Dulu saya juga seperti adik, jualan kue keliling kampung sebelum berangkat sekolah. Saya melakoninya dari SD hingga SMA. Alhamdullillah dik, ada seorang ibu yang berbaik hati membayar uang kuliah saya”, lanjut Ami.
“Wah, kita sama ya bu”, kata si Adik.
Ami mengangguk.
 “Berapa mie ini harus saya bayar dik?”, tanya Ami sambil mengelap mulut dengan tisu.
“Saya sudah mendapatkan inspirasi dari ibu agar tetap semangat dalam menggapai cita-cita, ibu tidak perlu membayar mie”, kata si Adik.
“Eh, jangan”, kata Ami.
“Tidak apa-apa bu, saya permisi, saya berangkat sekarang”, kata si Adik sambil berlalu.
“Dik…dik”, panggil Ami.
Si Adik menoleh, “Ada apa bu?”
“Saya mau memberikan kejutan dan hadiah untuk kamu”, kata Ami.
“Hadiah? Kejutan?”, tanya si Adik.
“Iya, saya punya rencana besar”, kata Ami.
“Apa itu bu?”, tanya si Adik.
“Saya senang dengan kejujuran dan semangatmu, kamu pun telah menginspirasi saya. Saya ingin kamu menerima pemberian saya. Kamu mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Untuk itu saya akan menyekolahkan adik hingga lulus kuliah, bagaimana?, kata Ami dengan senyum sumringah.
“Benar dik, jangan kuatir ya dik, saya akan membantumu menggapai segala cita-citamu”, kata Ami sambil tersenyum.
Si Adik menangis bahagia dalam pelukan Ami di tengah-tengah Taman Monas. Ami pun merasakan kebahagiaan dan ia tahu setelah ini semangatnya akan membara menggapai cita-cita meraih beasiswa S2. Ami berucap amin.
 

http://puteriamirillis.blogspot.com/p/daftar-isi.html

13 komentar:

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

aku belum pernah jalan2 ke taman sendirian mbak

wi3nd mengatakan...

kirain mau ikut upacara yang dipimpin ama jokowi :D

sebuah inspirasi yang saling mendukung demi sebuah pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa ya..

Ingin Selalu Sehat? Inilah Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Anda mengatakan...

Sama mbak, saya dulu di SMD juga jualan keliling, tapi jualan kue-kue buat sarapan, kalo disini dibilang Untuk-untuk, Sanggar banyu dan yang lainnya. Itu merupakan harapan buat saya dan kakak saya untuk tetap dapat bersekolah. Alhamdulillah sampai akhirnya bisa hingga ke perguruan tinggi.

Salam hangat hangat dari Balikpapan.
Budi Mulyono

Mugniar mengatakan...

Ahamdulillah .. ending yang bahagia. Mudah2an banyak yang baik hati seperti ini. Btw maaf lahir batin ya mbak. Maaf baru ke mari

jiah aljafara mengatakan...

ikut mengamini aminnnn

aq sering jalan2 sendiri #kayaanakilang

sari widiarti mengatakan...

rasanya pengen ketemu si adik itu, memborong semua peyeknya :D

mama kinan mengatakan...

Alhamdullillah emak kinan dan keluarga baik mbak pu * aku jawab pertanyaan di koment blogku disini yah...
MInal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin dari mama kinan dan keluarga untuk mbak pu dan keluarga..:)
wah monas..kapan terakhir aku kesana yah..maret 2008 kayaknya sebelum menikah...

kakaakin mengatakan...

Saya senang jalan2 di Monas pas Minggu pagi :)

Keke Naima mengatakan...

aamiin

selamat hari raya idul fitri. Minal aidin wal faizin :)

Ika Koentjoro mengatakan...

Belum pernah ke Monas. Kapan-kapan pengen banget ajak anak-anak ke monas

Santi Dewi mengatakan...

mengharu biru :)

puteriamirillis mengatakan...

@Lidya - Mama Cal-Vinaku pernah mbak :)

Muslimedica mengatakan...

semua harus diniatkan untuk Allaah