Senin, 17 Maret 2014

Genggaman Tanganmu 5

Bersambung dari genggaman tanganmu 4

Gerybaldi
Pantai Harlem yang sepi. Aku sengaja sejenak lari dari pusat kota Jayapura. Baru tadi pagi aku kembali dari Timika. Aktivitasku hanya memantau perkembangan pertambangan yang semakin liar meraup bijih besi, emas dan tembaga hasil bumi Timika.

Kabarnya mereka membawa hasil tambang untuk dijual di luar negeri dengan harga yang selangit. Sungguh bodoh pemerintah Indonesia menyerahkan begitu saja harta kekayaan alamnya tanpa berusaha untuk mengolahnya secara mandiri.

Sebagai reporter sebuah surat kabar nasional, aku selalu ditugaskan oleh kantor untuk meliput tempat dan kejadian penting untuk disajikan dalam surat kabar. Wilayah peliputan adalah seluruh nusantara. Kali ini aku dutugaskan ke Timika, Papua. Seminggu sudah aku disana. Esok aku dan tim sudah kembali ke Jakarta dan lusa aku akan membuat liputan lagi di Manado. Kota tempat kelahiranku. Dimana saat ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dipimpin oleh ayah mertuaku.

Hmm. Serba salah akan kujalani. Pertentangan dengan pemikiran ayah mertua membuatku semakin resah. Dinda sudah memperingatiku akan hal ini. Ia tak mau hubunganku dengan ayah mertua menjadi buruk karena masalah pekerjaan. Idealismeku memang masih membara untuk tetap menjadi jurnalis yang menyajikan berita dengan jujur dan apa adanya.
bersambung ke GT 6

baru lanjut lagi nih,maaf kelamaan yaw.

http://puteriamirillis.com/p/daftar-isi.html

2 komentar:

Beby Rischka mengatakan...

Agak sedih deh baca lanjutan cerbung ini, Mbak Pu.. Bener juga, di luar sana hasil tambang Indonesia dijual sangat mahal, tapi kita sendiri ngga mampu ngolahnya.

Kalo aja bisa, mungkin keuntungannya bisa dibagi-bagiin ke orang banyak ya..

puteriamirillis mengatakan...

@Beby Rischka iya padahal kita punya bnyak sarjana kan ya beib...