Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Polisi Jahat Vs Polisi Baik

Hari Minggu siang itu  hujan deras mengguyur Jakarta. Kami sekeluarga tidak pergi kemana-mana siang itu. Istirahat di rumah saja. Abi sudah bekerja Senin-Jumat ditambah lembur di hari Sabtu. Pengen istirahat di rumah katanya. Namun siang itu abi begitu romantis bagi ummi karena abi mau membeli makanan di warung Padang dekat rumah dalam keadaan hujan mengguyur. Siang itu karena ummi belum ke pasar tidak ada makanan siang, dan abi lagi pengen makanan padang.

Umar yang sedang gandrung-gandrungnya dengan mainan excavatornya dari pagi sudah main di pasir luar rumah, dimana sedang ada pembangunan rumah. Setelah main excavator dari pagi di pasir tentu membuat roda excavator menjadi kotor.

Siang itu, di kala hujan deras, ummi mengatakan, "umar, ga boleh bawa mainan kotor ke dalam rumah ya. Rumah jadi kotor. Tapi Umar tetep tidak mau. Dia inginnya main excavator di dalam rumah. "Biar aja kotor ummi". ummi pun jadi marah dan tegas ke umar.

Begitu Abi datang, ummi memberi isyarat ke Abi. Abi hari ini jadi polisi baik. Nah di saat itulah Abi sebagai polisi baik, tidak ikutan marah-marah kaya ummi. Dan Abi baiiik banget deh..walaupun maksudnya tetap sama, mainan kotor ga boleh dibawa ke dalam tapi nada biacaranya lebih lunak.

Tetap saja umar tak dapat keinginan hatinya untuk main mainan kotor di dalam rumah, tapi efeknya tentu beda, dibanding jika kedua orangtuanya marah keduanya. Umar mungkin akan merasa shok, cemas, takut, dsb.

Sekian dari Pu
Wassalam

:)









ShoutMix chat widget

Jumat, 29 April 2011

Taman Yang Paling Indah

Taman yang paling indah hanya taman kami...taman yang paling indah taman kanak-kanak...Ya anak-anak..tangan ke atas tangan ke depan tangan ke samping dilipat yang manis...hehe...
Hmmm...
betapa indah ya masa-masa itu, masa-masa masih polos...masa-masa bermain sepuasnya...masa-masa di TK, masa pertama kali mengenal yang namanya kelas, jaman dulu ye,,kalo sekarang mah anak bayi aja udah punya kelas (baby class..gt).

Saya pernah punya keinginan untuk menjadi guru TK...karena sepertinya enak tiap hari bertemu anak-anak dengan segala tingkah polahnya yang lucu,,,polos dan punya rasa ingin tahu yang amat besar...dimana saya juga bisa menjadi pendidik bagi mereka...apalagi kalo anak kita juga sekalian sekolah disitu..hmmm ketemu tiap hari deh...

Dan menjadi guru memang terjadi sewaktu saya masih kuliah sampai sebelum menikah dulu) tetapi saya bukan menjadi guru TK, hanya guru les calistung yang diajar adalah anak TK...(saya agak heran deh,,jaman sekarang masuk SD harus udah bisa membaca,). Sebuah quantum sih..percepatan yang luar biasa, tapi andai saja ada anak yang belum bisa membaca apakah dengan begitu dia ga berhak masuk SD???

Kalau yang saya perhatikan ada anak-anak yang memang mudah dalam menerapkan kegiatan pembelajaran pada dirinya, jadi dia bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Namun ada pula anak-anak yang belum siap "belajar" secara serius sehingga untuk memulai ke arah membaca harus melewati proses lamaa...biasanya kita ajak menggambar dahulu, terus menggunting dan mengelem huruf-huruf, baru belajar membaca gambar sambil lihat tulisan...ada yang setelah 1 bulan sudah bisa baca, tapi kalo yang lama bisa sampai 6 bulan bahkan 1 tahun baru bisa membaca.

Taruhlah begini..jika si anak masuk SD pada bulan Juli...namun pada bulan itu dia belum bisa membaca...kenal huruf pun belum lengkap semua...dia butuh 2 bulan lagi untuk bisa membaca...jadi bulan september baru bisa membacanya,,,apakah anak itu bisa diterima di SD???mungkin tergantung SD nya ya...kalo SD swasta yang bertarif mahal bisa ya??tapi kalo SD negeri apakah bisa juga??apakah guru nya bisa menerima keberadaan nya??? saya hanya berharap mudah-mudahan bisa...mudah-mudahan aturan bisa membaca tidak terlalu saklek...
Toh menurut seorang pakar pendidikan (saya lupa namanya) seorang anak bawah lima tahun sebenarnya belum wajib kok bisa membaca...apalagi menulis dan menghitung...semua tergantung anaknya..kalo anaknya sudah siap ya oke aja..tapi kalo belum lebih baik jangan dipaksa-paksa...karena bisa membuat anak stress dan trauma belajar.
Saya akan menyekolahkan anak saya di TK pada tahun ini...di TK Islam di Mesjid dekat rumah saja, alasannya karena dekat sehingga ketika pergi dan pulang sekolah anak tak perlu memakai kendaraan..jukup jalan kaki saja..wong cuma di mesjid deket rumah. Saya sudah ke TK itu, sudah bertemu Kepala Sekolahnya dan memang di TK tersebut anak dibiasakan dekat dengan Al Quran dan pendidikan akhlak. Kepala sekolah itu mengatakan...di TK ini bu kami tidak bisa menari-nari jadi jangan kaget jika di sini anak tidak diajarkan menari, karena apa??karena di lingkungan mesjid itu sudah jadi aturan yayasannya...hmm bagi saya tidak masalah...toh kesenian tidak harus menari kan...dengan bernyanyi dan berputar kiri kanan juga sudah berkesenian...tapi yang utama saya ingin pendidikan anak yang benar untuk anak saya, saya katakan begitu kepada ibu guru itu. Untuk pelajaran membaca diajarkan pada TK B. Untunglah, saya berpikir anak saya ga perlu dipaksa untuk belajar, jika dia suka maka dia akan belajar sendiri...jadi dengan kurikulum membaca di taruh di TK B saya fine-fine aja...

Cukup deg-deg an juga saya dengan Umar akan masuk TK itu, saya berpikir saya harus tahu 100% seperti apa kurikulum yang akan diajarkan, bagaiaman lingkungan sekolahnya, bagaimana guru-gurunya, apakah dengan sekolah disitu kebutuhan jasad, rohani dan fikiran anak saya sudah terpenuhi,,,bagaimana jadwal olahraganya, acara jalan-jalannya, dan yang pasti juga berapa bayarannya???hehe...kalo semua sudah memenuhi syarat dan setelah diskusi dengan suami semua oke ya udah daftar deh...

Sebagai ibu bekerja tentu saya tidak bisa sepenuhnya terus mengantarkan anak saya ke sekolah tentu saya harus bisa membina hubungan baik dengan guru-gurunya dan tahu apa saja yang dilakukan anak di sekolah...dengan cara berbincang-bincang dengan anak sepulang saya kerja...kemarin-kemarin baru di kelompok bermain..masih di Al huda juga masih ada nenek dan datuk yang senantiasa memantau Umar..kalo yang deket rumah ini kan ngga...

Jaman sekarang pendidikan dan dalam belajar orangtua harus berperan 100%, anak tidak bisa dilepas sendiri...harus diikuti perkembangannya...semoga saya bisa dan insyaAllah dengan dukungan suami tentu saja...sebagai sama-sama mantan guru les (hehe.) saya dan suami sadar ga mudah membentuk anak agar paham makna dan arti belajar...jangan sampai anak belajar ga punya konsep hanya sekedar supaya nilai bagus, dipuji orang dls..tapi lebih sebagai pembiasaan hidup..bahwa hidup ini adalah media pembelajaran yang super lengkap, dan bahwa belajar itu sepnjang hayat...bukan begitu selesai kuliah misal maka belajar pun berakhir...
semoga Allah memberkahi semuanya amiinnn...^^

tulisannya endingnya kok jadi sejauh ini temanya ya...hehe...





ShoutMix chat widget

Kamis, 06 Januari 2011

Konseling Dengan Psikolog

Di kantor ada program baru, yaitu konseling dengan psikolog. Disana kita bisa konsultasi berbagai masalah yang kita hadapi. Masalahnya tak harus berat, yah sehari-hari aja. Misal masalah kerjaan, anak, rumah tangga, dll.
Nah hari ini perdana dan aku pun jadi konselee alias orang yang konsul. Sebenarnya sih pengen tau aja, gimana sih rasanya konseling dengan psikolog (biasanya waktu sekolah dulu aja konsul ama guru BP, hehe...)

Ternyata teng teng,,,psikolog nya menyenangkan, aku yang ragu pada awalnya jadi lancar aja ngeluarin unek-unek,,yah biasa lah masalah anak dan PRT yang aku konsulkan hari ini,,,

Awalnya aku konsul masalah PRT,,begini dan begitu seperti yang aku ungkapkan di sini, dan ternyata bu psikolog memberi saran untuk aku bisa bicara hati ke hati dulu dengan masing-masing PRT. Intinya apakah mereka masih ingin kerja di rumah?? biasanya PRT ku bilang betah aja, tapi tetep mau pulang dan akhirnya ga balik lagi,,(kadang logika PRT suka aneh)...

Lalu aku konsul masalah anak...gimana Umar suka rewel kalo aku mau pergi kerja, yang bertambah rewel setelah pindah rumah. Menurut ibu psikolog itu karena seorang anak di bawah umur 4 tahun punya logika yang nyata, belum bisa berpikir abstrak. Saat pindah rumah, Umar menyangka dia akan berpisah selamanya dari neneknya (baca: jida), anak itu berpikir jida itu menghilang, kok ga ikut pindah rumah, atau bahkan dia berpikir rumah nya jida hilang (makanya ketika umar kuajak pertama kali ke rumah jida sehabis pindahan dia seneng banget, azkiya juga, mungkin mereka berpikir rumahnya jida ga hilang kok).  Pikiran-pikiran seperti ini yang menghantuinya ketika baru pindah rumah, sehingga dia bertambah rewel ketika aku mau berangkat kerja, karena dia berpikir jida ga ada ummi juga ga ada, aku cuma ama embak (anak seusianya dengan pikiran yang masih logika nyata tersebut belum bisa berpikir ummi ada di tempat lain loh, dan sore sudah pulang lagi...tapi alhamdullillah suamiku selalu ada waktu untuk pulang siang dan sore karena kantornya deket ama rumah...tapi setelah terbiasa dia gak seperti itu lagi, mungkin tambah gede juga...sekarang umar udah bisa tertib ketika aku mau kerja, ga rewel lagi, cium tangan ummi juga...sekarang azkiya yang mulai rewel,,hehe,,episode baru...dan kata psikolog kita harus bisa berbicara kepada anak dengan bahasanya, yang menyatakan ummi pergi tapi akan kembali lagi, ga pergi selamanya (karena anak2 itu berpikir kita akan pergi selamanya)..ooh gitu...

Jadi sarannya bu psikolog, kita selalu omongkan dengan anak kejadian per kejadian...misal mau pindah rumah,,beri pengertian,,biacaralah dengan mereka bahwa kita akan pindah, nenek ga ikut, rumah nenek di sini, rumah baru kita di sana,,mereka akan lebih ayem menerima kepindahan dan tidak menganggap neneknya akan hilang selamanya. Kalo kita mau kerja,,yah begitu juga..katakan ke anak bahwa kita kerja sampe jam sekian..tunjukkan jam nya, jarum panjang dimana, jarum pendek dimana, nah jam itu ummi pulang,,,kalo kita pulang telat pun (lembur misal) telpon juga mereka katakan ummi pulang telat, supaya mereka tidak kuatir.

Yang ketiga masalah azkiya,,dia selalu nangis kalo ada orang pergi keluar rumah, walopun itu si embak, aku, ato abi (suamiku). Lalu psikolog tanya ke aku, bagaimana dulu ketika sedang mengandung azkiya. Dan aku katakan memang saat mengandung kia dulu aku masih tugas di Ternate, dan sedang mengaudit Pemerintah Kota Ternate. Nah saat itu teman-teman akan mengaudit ke Pulau Batang Dua yang letaknya di tengah-tengah antara Manado dan Ternate, ditengah laut, dari Ternate naik speed boat 4 jam ke sana, lama buanggett kan...satu lagi ke Pulau Hiri naik perahu kayu, dan aku pengen ikut...tapi  ga boleh doong ama temen-temen, kan lagi hamil...bisa-bisa melahirkan di jalan hehe...kejadian itu membekas di janin azkiya dan akhirnya sekarang kia jadi demen kalo diajak jalan-jalan..kalo udah pulang lagi ke rumah nangis,,,kata psikolog gapapa kok,,itu akan hilang sendiri seiring bertambah umurnya...

Yahhh gitu deh,,,just 4 sharing aja,,,^^