Deras kau guyur bumi serambi mekah ...
Wahai hujan..
Tangisan warga akan kehilangan keluarga ...
Tetap tak seberapa dengan derasmu kala itu...
Tak lama aku di Aceh...
Namun di saat tak lama itu pun aku hanya bisa memutari wilayahmu dalam hujan...
Seakan ingin mengatakan padaku...
Inilah tangisan itu...
Tangis yang pecah...
Tangis yang keras...
Tangis yang melengking...
Baiklah...
Kurasakan wahai hujan...
Bagaimana tangis itu...
Di tahun 2004...
Kala tsunami melanda...
(mengingat saat ku di Aceh, hanya 2 hari)
(Puteriamirillis, Juli 2011)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Other Post
- Read Aloud Challange untuk Gen Alpha
- Surat Dari Parompong
- Pengalaman Pertama Ditugasi Mama Ke Pasar Tradisional
- Hamil Tetap Pilates Yuk!
- Crazy Officemate
- Nikmat Allah Yang Mana Lagi Yang Kau Dustakan
- Catatan Perjalanan Ke Pantai Harlem, Papua
- Peserta Story Pudding For Wedding
- Test Pack
- Nenek-Nenek (sebuah refleksi menjadi emak-emak blogger)
5 komentar:
Waduh puisi hujannya bagus banget jadi ngak pede nich...menampilakan puisinya
pede ajah lagi bli,,,
mmm.. dhe jd ingat waktu tsunami *dhe salah satu korban tsunami lho*
berlari dkejar air laut yg kian menggenang, tp.. kala itu ga lg ujan.. har minggu itu cuaca sangat cerah.. malah bbrapa hr tsunami jg ga ujan, hanya sx klo ga salah, itupun grimis..
sungguh, pristiwa yg ga kan pernah trlupakan hngga kini. hehehe
^^
oya, btw..salam kenal yah mba :D
2 hari yg sangat berkesan.
Kapan2 main lg yah ke kampung halaman saya..
Posting Komentar